Ketika TA Menjadi Bu(d)aya : Solidaritas di Tengah Kampus

Saya benar-benar tidak mengerti.

Dulu, ketika saya masih setingkat SMP, kata TA baru saya dengar dari teteh saya yang emang udah kuliah. Di schedule board-nya tercantum notes-notes dengan tulisan TA beserta deadline-nya. Saya iseng tanya, TA itu apa? Ternyata jawabannya adalah Tugas Akhir. Tugas yang diberikan dosen setelah materi perkuliahan habis, biasaya menjelang ujian atau sidang (begini kalau gak salah, lupa soalnya dulu saya masih remaja yang polos -_-). Ok, yang pasti nyangkut di otak saya, TA –> Tugas Akhir.

Sekarang ketika masanya saya yang jadi mahasiswa, ternyata berbeda. Saya memang sering dapat tugas, tapi baik teman-teman saya maupun kakak tingkat tidak pernah menyebutkan TA, cukup tugas saja. Tapi ternyata pernah waktu itu untuk pertama kalinya saya mendengar kata TA lagi. Saya yang melintasi sekelompok mahasiswa yang sedang ngobrol (sepertinya kakak tingkat) mendengar salah seorang dari mereka berkata : “Oy, si Anu sms nih. Katanya nanti kalo masuk dia minta TA”.

Oh, ternyata TA belum punah. Pikir saya waktu itu. Heran juga sih, ada mahasiswa yang ngajuin diri buat minta dikasih tugas sama dosen. Sampai akhirnya semakin sering statement-statement serupa, bahkan dari teman seangkatan saya.

“Ntar gue TA, ya!”

“TA aja deh, lagi males”

“Aku TA, donk…”, dan sebagainya.

Hingga pada akhirnya saya baru tahu bahwa TA yang jadi trending topic di kampus saya ini bukan Tugas Akhir, melainkan Titip Absen! *towew*

Saya tidak mengerti.

Kenapa mesti titip absen? Kalau memang tidak hadir ya gak usah tanda tangan, kan sudah ada kesepakatan mengenai aturan ini di awal perkuliahan. Takut gak bisa ikut UAS gara-gara kehadiran kurang dari yang disyaratkan?  Ya kalau gitu jangan keseringan bolos! Mudah saja sebenarnya jawaban dari hal-hal tersebut. Tapi pemikiran teman-teman yang sudah biasa melakukan hal ini yang sulit untuk saya pahami.

Solidaritas.

Hal ini yang selalu jadi shield kalau membahas tentang TA ini. Kenapa selalu saja ada yang mau menandatangani-kan absen temannya yang jelas-jelas tidak masuk kelas? Setia kawan. Saya pun pernah dititipi absen oleh teman-teman. Tapi saya (alhamdulillah) selalu bisa menolak, biasanya dengan alasan tanda tangannya susah untuk saya tiru. Tapi terkadang sering ada respon seperti ini :

“Susah apaan? Tanda tanganku kan  cuma paraf/huruf awal namaku doank”, atau

“Kok gitu sih? Wah, gak solid nih…” (benda padat kaleee, solid… +_+)

Entah apakah sudah direncanakan, mereka membuat tanda tangannya gampang seperti itu agar bisa dengan mudah ditiru temannya. Kadang saya berpikir kalau nanti orang tersebut jadi penguasa jabatan tertentu, tentu bahaya sekali kalau hal tersebut disalahgunakan oleh temannya. Dan kembali lagi soal solidaritas, disini saya justru memandang bahwa teman yang menolak TA-nya justru adalah teman yang sebenarnya care pada dirinya. Karena dia peduli, dia tidak mau temannya terus-terusan bolos dengan tidak bertanggung jawab (emang ada bolos yang bertanggung jawab? +_+”). Dia ingin temannya itu mandiri, bisa mengurusi masalahnya sendiri yang tentu saja akan berpengaruh untuk masa depannya nanti. Emang setelah kuliah kita mau bergantung terus-terusan sama temen kita? Payah dan sangat memalukan. (>.<)”

Dan bagi yang selalu dititipi absen, sampai kapan mau memanjakan teman-teman tersayang kita? Sampai maut memisahkan kita… (plak!!!). Apa tidak kasihan sama mereka? Mereka itu bertalenta, biarkan mereka berusaha. Bersikap adil dan toleran, menghargai usaha mahasiswa lain yang sudah datang mengikuti kelas. Apalagi yang jauh, misalnya dari Bandung (plak!!! ini bukan tags Curhat! >.<“).

Jika semuanya saling mempunyai kesadaran, kan enak. Everything is in it’s order. Gak ada yang merasa diistimewakan, gak ada yang merasa dirugikan. Gak ada yang akan disesali nantinya. Masa depan dijamin cerah!!! *gaya alay Sharpay di High School Musical 3*

Well, begitulah kawan. Sebenernya itu semua hanyalah pembuka. Inti pesan yang ingin saya sampaikan adalah :

Saya gak ngerti tiap pas ngabsen, pasti satu orang ngantrinya lama! Padahal tanda tangan sendiri mah gampang, sepuluh detik juga beres! Pasti gara-gara ada yang suka TA! Please deh… Tanda tangan mah urusan pribadi! Tanda tangan mah cukup satu! Ngapain tanda tangan banyak-banyak? Sekalian aja pas ada tugas atau ujian diisin tuh soal yang punya temennya! Solidaritas kok setengah-setengah???

Hahahaha…Keluar dah unek-unek saya sama teman-teman kampus! Asli keuheeeeuuuulll pisan kalau udah kejadian kayak gitu teh, serasa gak dihargain kita-kita yang masuk kelas kok disamakan dengan yang bolos? Makanya saya seneng banget kalau ada dosen yang di akhir kelas suka ngabsen lagi mahasiswanya satu persatu! Asli, puas banget! Hahaha…. Mangga di teruskan pak dosen, bu dosen!!! \(>.<)/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s