Yang Berhak dan Yang Meminta Hak

Maaf..sebenarnya ini draft bulan oktober, haha.. Udah agak expired, tapi gak apa-apalah daripada blog terbengkalai…

Sebelumnya saya ucapkan Selamat Idul Adha buat teman-teman semua… =)

Berbicara tentang Idul Adha, momen ini kemarin saya manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman. Meski awalnya agak bimbang, tak ada persiapan dan isi dompet yang berkurang, akhirnya saya jadi mudik selama sekitar 4 hari. Yah, ini memang suatu rekor. Karena di masa2 kuliah saya sebelumnya, saya hanya pulang kampung setahun sekali : pas hari Idul Fitri. Tapi untungnya saat itu saya jadi pulang, pasalnya kakak dan adik saya tidak pulang sehingga nenek kami di kampung pasti akan sangat kesepian.

Nenek memberitahu saya bahwa beliau akan berkurban seekor kambing yang dibelikan salah seorang uwa saya. Namun berbeda dengan kurban sebelumnya yang diorganisir oleh para paman dan kerabat dekat, kali ini prosesi kurban diserahkan sepenuhnya kepada panitia tetangga yang kebetulan melaksanakan kurban (hal ini karena saat itu para kerabat  banyak yang tidak pulang kampung).

Setelah kambing disembelih, paman saya menitipkan nama beberapa kerabat dekat yang akan diberi jatah daging kurban. Di kampung saya sudah tradisi untuk membagi daging kurban kepada kerabat dekat, sebagai suatu penghormatan dan menyambung silaturrahim. Saat itu salah satu paman saya  berniat untuk membuat sate, lalu paman saya yang satunya lagi menyumbangkan jatahnya untuk sekalian dibuat sate (kebetulan beliau tidak terlalu suka daging kambing) dan diikuti oleh uwa dan teman paman (mungkin agar lebih praktis saat dibawa ke rumah tinggal makan aja).

Untungnya paman saya cukup ahli membuat sate, dibantu oleh istrinya, kerabat, saya dan sepupu, dapur nenek cukup sibuk saat itu.

Fair play. Karena paman saya lah pencetus membuat sate beserta beliau dan istrinya lebih mengerahkan banyak tenaga, ditambah jatah dagingnya lebih banyak (termasuk punya mertuanya), maka mereka pun mendapat jatah sate cukup banyak.  sate lainnya pun dibagikan. Namun entah kenapa saat itu saya belum terlalu lapar, sehingga saya baru makan tiga tusuk dari jatah 10 tusuk. Pikir saya, sisanya bisa buat makan malam saja.

Namun tiba-tiba… Ada tetangga blok sebelah yang datang. Awalnya sih sekedar menyapa, bertanya siapa yang berkurban. Dan nenek saya pun langsung merasa tak enak hati. Beliau menjelaskan bahwa anak-anak berinisiatif sendiri membuat sate dari jatah mereka, sedang yang mengurusi jatah kurban adalah panitia tetangga. Akhirnya tetap saja beliau menawari beberapa tusuk sate, yang sebenarnya sudah dijatah. Tetangga tersebut menolak,

“nggak usah, bu. Udah nggak ada, nggak apa-apa. Ini kan punya anak-anak. Saya cuma nengok aja kesini, sambil mau salaman “.

Ha! Basa-basi busuk!

Nenek saya emang orangnya tidak enakan terhadap orang lain, dan saya tahu beliau tidak akan membiarkan tetangganya ini pulang dengan tangan kosong. Lalu diambilnya beberapa tusuk sate dari piring saya….

“Ini, ambil aja. Maaf cuma sedikit, gak ada lagi”, nenek saya memberikan bungkusan sate tersebut.

“Oh, aduh makasih. Iya gapapa, yang penting ini buat anak saya si XXX. Makasih ya, bu..”. Dan ia pun pergi.

Saya pun tidak bisa berkata apa-apa. Sementara yang lain masih makan jatah mereka, saya hanya bisa menatap piring putih dipangkuan saya yang belepotan kecap.. ='( *Oh God why*

Lalu terdengar suara ribut, ada seseorang yang datang lagi. Tetangga sebelah juga, terkenal hobi berkomentar (if you know what I mean). Saya langsung menghela napas, kacau..yang ini pasti lebih parah.

“Lagi nyate ya? Saya mau minta donk!” wow, straightforward banget..gak ngucapin salam atau selamat idul adha dulu, bu?

Paman saya kebingungan, nenek saya apalagi. “Udahan nyatenya juga, gak banyak. Orang rumah semua”, kata paman saya.

“Ih, masa sih? Masa tadi saya dibagi jatah yang mentah dapetnya cuma daging kecil sama tulang beberapa biji?”, kata ibu itu dengan nada melengking khas ibu-ibu ngambek.

Paman saya yang merasa risih akhirnya menyerahkan dua buah tusuk sate dari jatah bungkusan mertuanya, “Ya udah nih, nyicipin aja. Lagian ini yg kurban tuh ibu, bukan saya! Dan emang yang bagi-bagi jatah semuanya diserahkan ke panitia”. Yah…tetangga ini emang agak kenal dengan paman (sekedar kenal karena ada urusan tertentu), tapi gak pernah berinteraksi dengan nenek, saya atau orang rumah lain. Bahkan saat itu dia hanya berbicara dengan paman, tidak dengan nenek saya yang punya hajatnya.

Sambil makan sate tersebut, dia masih aja ngedumel, “Iya, tapi masa tulang doang? Dagingnya dikit, kecil-kecil”.

Grrrr… Tanpa banyak makan sate pun, kelakuan orang ini sudah cukup bikin saya darah tinggi.

Dengan nada dingin dan agak lantang, saya pun berkata, “Masih untung  dikasih!”.

Orang itu berhenti mengomel, lalu berbicara mengalihkan topik dengan paman. Saya melengos, tersenyum sinis. Tepatnya jijik. Tak lama orang itu beranjak akan pulang. Saya yang masih kesal berseru dibalik pintu, “Satenya enak, ya? Oh, sama-samaaa…!”.

Nenek saya cuma tersenyum mendengar perkataan saya, “Padahal udah sengaja diserahin urusannya sama panitia biar gak ada yang tahu, biar pembagiannya adil dan rata berdasarkan data siapa aja yang berhak, tapi kok tetep aja akhirnya mah ada aja yg begitu…”

“Kok ada ya, orang kayak gitu? Minta jatah lebih, gak berterimakasih. Yang berhak aja belum tentu berani minta langsung”.Nenek manggut-manggut.

Untung malamnya saya gak kelaparan. Paman saya yang lain membawakan ikan goreng dan roti bakar, setidaknya kekesalan saya gara-gara kehilangan sate untuk makan malam agak terlupakan hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s