Kejengahanku – Pada Hujan #1

Aku merasa kasihan. Pada ilalang kering, angin gersang, debu jalanan, retakan tanah. Adakah yang sudi menyelipkan mereka pada bait puisi, dimana rindu dan manisnya kata-kata cinta ikut digoreskan? Lelah sudah mataku membaca rayuan dalam sajak-sajak hujan, penantian akan kehangatan, kutipan cengeng tentang airmata yang dapat mereka samarkan, sungguh membuatku bosan. Mungkin saja sekali aku juga pernah menggilainya. Tapi hujan, kini terlalu pasaran. Seperti wujudnya, yang selalu datang keroyokan.

1372189356_save-for-a-rainy-day1

Aku benci. Orang-orang menjadi sok romantis, sok puitis. Sejak kapan mereka menjadi penyair? Menjadi pujangga? Seniman musiman, aku bilang. Seperti hantu yang hanya datang saat malam jum’at kliwon, ketika kemenyan dan sesajen disediakan.

Menggelikan. Hujan yang membuat hati mereka menjadi rentan, melunak seketika oleh ungakapan-ungkapan picisan. Saat hujan, mereka bilang, kata-kata tumbuh dari benih yang tersiram. Bah! Aku seolah kambing yang dengan senang hati melahap tanaman mereka, daun-daun muda. Atau bahkan kuda nil, menginjak jiwa yang melembek bagai lumpur, oleh hujan, hingga aku bisa berkubang.

Semu. Entah, sejak kapan mereka berapresiasi. Bahkan aku tak yakin mereka membaca koran pagi. Dari Hujan Bulan Juni – Sapardi, hingga Song Of The Rain – Verlaine. Ah, memang sajak yang indah…, romantisme, cinta, kegalauan, hujan, di bulan juni. Untunngnya aku, jika tak hanya romantis saat hujan atau jatuh cinta hanya di bulan juni. Ketakterbatasan hatiku, kan ku kutip diriku kapanpun aku mau.

Jika romantisme di bawah payung dan hangat pelukan yang mereka cari, aku bisa jamin bahwa musim panas atau kemaraupun sudah memilikinya. Kau bisa berteduh di bawah payung, di hamparan pantai, puncak bukit atau ladang, menyaksikan mentari terbit dan tenggelam. Hangat sudah pasti kau dapat, bahkan tanpa peluk jika kau mau. Peluh yang ada mungkin, malah membuatmu lebih romantis untuk saling menanggalkan pakaian, dan berenang dalam kemesraan.

Hah, terlalu buta, tak peka, atau lupa? Kelegaan akan sekelebat hembusan angin saja, kenikmatan akan kristal es yang lumer di tenggorokan, kesegaran satu gayung guyuran mandi pertama… Perasaan-perasaan itu…mereka kemanakan saja?

Oh, tentu saja…mereka akan mengagungkan hujan sebagai rahmat Tuhan. Aku tahu itu, bodoh! Tapi selama ini kau anggap apa si kemarau? Sebuah kutukan? Dimana kau bebas bermain, berlari, dengan baju yang basah oleh keringat. Sedang kau selalu berlari menghindar dari sang rahmat, tak ingin membuat pakaianmu basah. Sebuah alasan, sebuah hambatan kau jadikan ia. Memenjarakanmu di sudut kamar, menjelmakanmu manusia ingkar.

Dan..dengan euforia-nya di balik jendela, mereka kian tenggelam.

Sementara aku masih kasihan. Pada tali dan tiang jemuran. Yang tampak kesepian.

***

Mencibir sang awan,

Desember  2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s