Diary KKNM Unpad Gegempalan “Gegemcuy” #1 : Insiden Roti

Tidak pernah menyangka kalau KKN sebulan kemarin bakal sebegitu serunya. Padahal sejak awal saya tidak punya bayangan sama sekali apa saja yang harus saya lakukan, apakah akan cocok dengan suasana disana, apakah bisa berbaur dengan baik dengan teman-teman KKN nanti? Kekhawatiran tersebut sempat saya tuangkan dalam diary saya :

2014-03-15 14.11.26Tapi ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi. Banyak kejadian-kejadian menyenangkan yang saya alami, pokoknya  seru deh! Nah, yang paling seru itu justru di hari pertama. Lho, kok bisa? Haha, ya udah nih saya ceritain sedikit di bawah. Oh iya, bagi yang belum tahu siapa-siapa aja tokoh cerita KKN ini, silakan berta’aruf disini.

7 Januari 2014

Semalam saya sama sekali tidak tidur. Semua sudah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya, tapi selalu saja datang sindrom H-1 : keraguan atas barang bawaan yang selalu nampak kebanyakan. Jadilah semalam saya bongkar dan absen isi tas lagi, sekaligus ada beberapa diantaranya yang saya eliminasi. Alhasil saya hanya bawa sebuah tas ransel dan sebuah kantong plastik. Tapi jangan heran dulu kenapa saya cuma bawa ransel untuk durasi  satu bulan merantau, karena pada H-5 saya sudah menitipkan sebuah travel bag ke penginapan.

Yang ini juga mengalami bongkar muat berkali-kali

Yang ini juga mengalami bongkar muat berkali-kali

Ada momen lucu saat H-5 itu. Teman-teman yang mau titip barang disuruh tunggu di depan Alf*mart  dekat kampus jam 8. Saya sudah standby di tempat, nunggu yg lain datang sampe jam 8 lebih…entah lebih berapa jam saya gak inget -_-. Waktu itu saya duduk di kursi depan Alf*mart, di sebelah saya ada beberapa mahasiswa yang sepertinya pada mau nge-drop barang juga ke tempat KKNnya. Mereka  ngobrol sambil ngemil, tapi yang saya lihat ada satu keresek makanan yang tidak mereka sentuh di meja itu. Lama kelamaan mereka pergi, lalu teman saya Ria datang, disusul anak-anak cowok lainnya. Setelah Om Riza datang, beliau masuk dulu beli makanan. Lalu disimpanlah plastik berisi kue yang beliau beli di meja, bersamaan dengan keresek yang ditinggal dari pagi itu. Kemudian datanglah kang Dani dan kang Ocid. Setelah say hi dan salam-salaman, terjadi situasi seperti ini :

Kang Dani : “Eh, bagi donk makanannya..”

Om Riza : “ Iya, sok ambil aja”

Lalu kang Dani mengambil kue, setelah itu kang Ocid mengambil…bakwan? Perasaan gak ada yang jajan gorengan? Saya pun langsung berbisik pada Ria, “Eh, itu kang Ocid ngambil makanan dari keresek yang mana Ri? Aku gak tahu itu gorengan punya siapa…”. Ria langsung melongo.

“Kang Ocid ngambil gorengan?” tanya kami berdua.

“Wah, iya. Gak boleh diminta ya?”, jawabnya. Saya perhatikan tangannya sudah kosong, waduh..bakwannya udah abis berarti.

“Eumm..bukan gitu, tapi saya gak tahu itu punya siapa. Dan sepertinya plastik gorengan itu sudah ada sejak saya datang kesini tadi pagi…”

“Huahahaha!”, yang lain langsung ngakak mendengar penjelasan saya. Bahkan Om Riza yang lagi nenggak susu b*ndera family pack yang ukuran satu liter  pun sampe tersedak (ya iyalah, mau gak kesedak gimana coba nenggak langsung satu liter begitu?) +_+”.

“xs^$#%&*…!!!? (*kalimat disensor*)” , kang Ocid cuma bisa merutuk.

Kembali ke hari H, saya berangkat ke kampus setelah subuh. Kordes kami sudah jarkom jadwal untuk kumpul di kampus jam 6 pagi. Tapi yah…gak usah diceritain deh ya… Pokoknya setelah di dalam bis, saya merencanakan untuk tidur! Untungnya masih ada beberapa kursi kosong, saya yag tadinya mau duduk bareng Ria memutuskan untuk menguasai satu baris kursi (3 seat) sendiri hehe. Tapi ternyata…ketika bis hampir berangkat, datanglah Kang Tora, celingukan nyari tempat duduk. Akhirnya ya…gak jadi deh nguasain tiga seat itu. Aaaakkk!!!

Singkat cerita, setelah diberi sambutan di Kecamatan, kami sampai di rumah pondokan, Sementara Kang Ary – sang Kordes pergi ke kantor desa ditemani asistennya, kang Tora, kami berlima belas beres-beres barang bawaan. Setelah pembagian kamar, saya celingukan nyari barang saya. Travel bag dan ransel sudah ada, tapi dimanakah gerangan kantong plastik putih yang berisi bekal Roti tersebut? Mondar mandir ke ruang depan, ruang tengah, dapur, kamar-kamar, tetap gak ketemu. Gawat, saya udah laper akut karena belum sempat sarapan tadi pagi. Saya tanya ke penghuni kamar sebelah, teh Sarah dan teh Rifi pun jawabannya gak tahu. Setelah thawaf keliling rumah, saya sa’i ke ruang depan (edan, emangnya lagi ibadah haji?). Kebetulan anak cowok sedang duduk istirahat disana, Kang Arif yang lihat saya dengan tampang bingung nanya, “Lagi nyari apa?”. Saya deskripsikan kantong plastik tersebut berikut rasa dan merek si roti, tapi jawabannya juga gak tahu.

Capek ah, sepertinya harus direlakan saja. Tapi saya penasaran, karena merasa tidak ketinggalan di bus, jelas-jelas saya bawa ke dalam rumah. Emang sih, tadi yang bawa barang-barang masuk anak cowok, tapi sepertinya mereka pada gak tahu juga. Saya coba ke ruang depan lagi. Agak janggal, anak cowok yang lagi rame ngobrol sambil ketawa, mendadak jadi pada diam ketika saya lewat. Setelah saya pergi, jadi rame lagi. Ah, sudahlah…saya istirahat di kamar saja.

Beberapa saat kemudian saya berniat ke kamar mandi, tiba-tiba di ruang tengah ada kang Wildan berdiri melihat saya sambil senyam senyum teu puguh.

“Eumm..Syifa, itu..eum….” *jeda bentar*

“Ini, maaf ya…”, lalu beliau menyodorkan kantong plastik putih yang sedari tadi disimpan di balik punggugnya.

Saya melongo, anak-anak cowok di belakang ketawa. Saya lihat isinya, S*ri Roti tawar keju punya saya! But wait! Isinya tinggal beberapa lembar saja, ha…ha…ha…. *speechless*

5514627_b71e85409164ccd1ced6daa368500765

Tadinya mah masih penuh, alias kemasan belum dibuka sama sekali, heuheu…

“Maaf banget Syif, maaf…”, kang Wildan menangkupkan kedua tangannya.

Lalu datang kang Aidil, “kita gak tahu itu punya kamu”, katanya sambil nahan ketawa.

Anak cowok makin keras ketawa di belakangnya. “Woy! Sini lu pada! Jelasin nih, gue gak tahu apa-apa, lu kan yang mulai?” teriak Kang Aidil.

“Apaan? Gue mah gak ikut-ikutan!”

“Bukan gue!”

“Itu mah elu!”

Rumah jadi makin rame, sementara saya masih berdiri disana sambil megang plastik, masih juga dengan tampang bloon.

“Jadi gini, tadi kita masukin barang. Terus ada kantong plastik, kita simpen dulu di meja. Udah gitu ada yang nyeletuk ‘eh, makasih ya ni rotinya gue makan’, yang lain jadi pada ikut makan”, jelas kang Wildan dan kang Aidil. Saya bingung harus ngapain, aslinya saya pengen ketawa dengerin cerita mereka berdua. Di tambah lagi di pojok ruangan ada kang Dani lagi sholat sambil nahan senyum.

“Nih, dia nih! Tiba-tiba tadi bilang mau sholat, padahal mah alibi mau ngehindar, Syif. Lu sholat apaan jam segini?”, kang Aidil nyolot sambil nunjuk-unjuk kang Dani yang baru selesai sholat. Yang ditunjuk cengengesan.

Saya cuma bisa bilang gak apa-apa, asli karena emang gak tahu harus merespon apa atas segala kekonyolan ini. Pas tadi saya nanya juga bilangnya pada gak tahu. “Tadi tuh lagi mikir dulu, gimana ngerangkai kata buat ngejelasinnya”, kata kang Wildan. Hahaha, dasar!

“Gila, ini baru hari pertama dan kita udah bikin masalah!” seru kang Aidil

“Gak apa-apa, kita jadi punya sesuatu buat diceritain nantinya”, kata yang lain.

“Iya, tapi pake nyolong roti orang!”

“Huahahahaha!!!!”

Entah kenapa, kejadian ini dianggap sangat lucu dan mengesankan. Selalu dibicarakan saat makan malam, bahkan sampai jadi trending topic selama beberapi hari setelahnya. Hahaha, aduh laper.. =(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s