Kutu Buku di Kampus Sastra

Fakultas Sastra itu katanya fakultasnya para geek, alias kutu buku. Fakultas Sastra itu tempatnya mahasiswa yang rajin baca buku. Fakultas Sastra itu tempat berkumpulnya bibit penulis dan pujangga. Fakultas Sastra, dimana para mahasiswanya tidak bisa dipisahkan dengan buku, kertas dan pena.

Well, those all are BIG FAT LIES!

“Ah, kamu mah enak, kutu buku. Suka baca buku, jadi mata kuliah ini lumayan gampang buat kamu.”

Percaya atau tidak, kalimat itu sering saya dengar dari teman-teman kampus, sebuah komentar yang ditujukan pada saya ketika kami sedang membicarakan suatu mata kuliah. Dan terkadang, balasan yang sering terbersit di benak saya adalah : “What the hell are you doing here, then?”

FIBYa. Ngapain kamu kuliah di Fakultas Sastra kalau gak suka baca? Tapi tidak bisa dipungkiri, kutu buku di Fakultas ini adalah minoritas. Ironis, memang. Makanya sebagian besar pasti memilih pengutamaan linguistik, atau penerjemahan (sayangnya di jurusan saya tidak ada pengutamaan penerjemahan, padahal saya pengeeeenn.. T_T). Nah, mungkin itu juga salah satu alasan kenapa Fakultas saya ini kemudian berubah nama jadi Fakultas Ilmu Budaya, (Budaya Gak Suka Baca) hoho. Tidak cuma baca, menulis juga sepertinya minoritas. Seriusan, nulis karya sastra? Pas dosen jelasin materi di kelas  aja pada maenin hape. Nanti paling banter minta copy-an file materi atau foto copy catetan orang, nulis ya yang penting-penting aja, misalnya kisi-kisi ujian, jadwal dan ruangan ujian, sama contekan. Nulis karya sastra? Pulpen aja gak punya, tiap isi daftar absen juga minjem.

Uh, susah ya… Baca dulu aja deh, apa aja kek. Mau iklan kos-kosan juga yang penting baca +_+. Tapi yah, tetep aja sebelum milih pengutamaan jurusan juga karya-karya sastra mesti dipelajari disini dan pas nanti skripsi, bahan penelitiannya juga pasti karya sastra yang mesti dibaca secara menyeluruh. Muahaha…

Bagaimanapun, ada satu hal yang ingin saya jelaskan melalui postingan ini : seorang kutu buku yang kuliah sastra itu tidak selalu menyenangkan!

Mau tahu kenapa? Seorang kutu buku memang suka baca, tapi jangan salah, mereka juga punya selera. Artinya tidak semua jenis buku mau mereka baca. Sebenarnya bisa-bisa aja sih, tapi ya tergantung mood serta pengaruh dan paksaan. Misalnya saya sendiri, yang tidak suka baca buku non fiksi, novel Indonesia religi (sama ogahnya kayak nonton sinetron), dan buletin yang suka dikasih sama teteh-teteh bergamis (oops!). Namun dengan identitas kutu buku, orang-orang cenderung berekspektasi bahwa saya suka membaca semuanya.

re_buku_picture_84064Faktor lainnya adalah, seorang kutu buku mempunyai target atau list bacaan sendiri. Namun hal tersebut akan dikacaukan oleh dosen dengan mata kuliah serta tugasnya yang mengharuskan para mahasiswa membaca buku referensi yang berbeda sampai masa kuliah berakhir. Disini, saya termasuk salah satu korban. Ceritanya saya sedang membaca novel  A Tree Grows In Brooklyn karya Betty Smith, dari bulan Januari sampai sekarang belum juga rampung! Selama masa tersebut perkuliahan saya penuh dengan pencarian data-data karya sastra, yang kemudian harus dipresentasikan dengan memuaskan. Kemudian membuat analisis terjemahan yang tugasnya tak kunjung usai, diantaranya menerjemahkan artikel majalah, dua buku anak karya Margaret Rettlich, surat resmi perusahaan, serta dua buah iklan. Lalu membaca roman klasik karya Theodore Fontane berjudul Effi Briest. Wow, novel klasik adalah bacaan kesukaan saya. But, wait! Alur dalam novel ini amat membosankan, bahkan orang-orang Jerman sendiripun berpendapat demikian. Padahal yang saya baca adalah versi einfacher leser alias easy reader, tapi ya..tetep aja bahasa Jerman bikin ngantuk. Dan karena tidak sabar saya skip beberapa bab sampai ke lembar terakhir, dimana tertulis bahwa ada karya serupa yang terkenal dari Perancis dan layak untuk dikomparasikan.

401-401-thickboxmadame-bovary anna-karenina-narasi Wow, seketika saya teringat novel tersebut adalah Madame Bovary karya Gustave Flaubert yang dulu teteh saya beli. Segeralah saya mencari novel tersebut dan sekarang sedang dalam progress membaca. Saya juga ingat satu buku lagi karya Leo Tolstoy berjudul Anna Karenina yang terkenal dari Rusia, novel itu juga ada di tumpukan buku teteh saya. Yup, tiga roman legendaris Eropa, yang bercerita tentang kehidupan perempuan. Saya lihat banyak artikel tentang tiga karya tersebut, berarti memang layak untuk dikomparasikan. Apalagi saya memang hobinya membandingkan sesuatu (sendirinya padahal tidak mau dibanding-bandingkan) hehe. Euh, jadi pengen cepet selesai baca ketiga-tiganya!

Nah, jadi beginilah kekacauan itu bermula. Saya mudah terpengaruh oleh godaan, iman membaca saya belum kuat! >_<

Bicara soal godaan, saya juga kena godaan lain, yakni dari seorang teman yang mengajak saya ikut proyek penelitian salah satu dosen mengenai Bilderbuch alias buku cerita anak-anak bergambar. Kayaknya enteng lah ya, tapi ternyata referensinya haruslah terbitan yang tidak lebih dari tahun 2000, sementara yang saya temukan diperpustakaan kebanyakan adalah buku-buku baru. Huaaa! Minggu lalu saya sampai sempat tertidur di meja perpus Goethe Institut mencari buku-buku itu. Saya temukan beberapa buku lama, tapi tidak berisi materi yang diinginkan. Karena capek, akhirnya saya pinjam tiga buku sekaligus untuk dibaca dirumah.

2014-05-16 14.38.12

Ternyata yang karya Theodor Storm tidak memenuhi kualifikasi, jadi masih banyak buku yang harus dicari.. =(

Sebenarnya masih ada buku-buku lain yang masih waiting list, seperti novel Herr Der Diebe-nya Cornelia Funke yang bulan lalu saya beli gara-gara kena hasutan teteh saya, buku Psikologi Sastra – Albertine Minderop (ini sih nabung buat referensi skripsi nanti, hihi..amiin), komik The Muslim Show yang pernah saya ulas meet and greet pengarangnya disini, serta rezeki yang saya dapat dari Giveaway ultah Blogger Buku Indonesia, yakni novel Peter Pan karya J.M Barrie dan The Lord Of The Rings I karya J.R.R Tolkien (aaaahhh…can’t wait for the classics!). Entah harus berapa banyak buku lagi yang ngantri, penantian ini saja sudah cukup melelahkan. Dan menyebalkannya ketika ada orang yang bertanya, kamu udah baca buku apa aja bulan ini? A lot! A lot enough to make me stressed! Profil goodreads saya belum saya update, jadi jika dilihat kok tidak ada progress. Padahal yang saya baca itu jumlahnya lumayan, tapi mana sempat update? Data Godreads pun ternyata belum lengkap, malas kalau harus bikin data sendiri.

Tuh kan, jadi kutu buku sambil kuliah sastra itu gak enak. Lebih untung yang gak suka baca sih, harusnya. Pas ada tugas suruh baca, ya tinggal baca aja. Toh jarang-jarang kan baca buku? Kapan lagi coba? Sementara kutu buku harus dengan berat hati melepas dulu buku  yang sedang dibacanya saat itu, lalu stress karena target baca jadi tidak karuan. Haaahhh…….

Kadang saya juga iri dengan mahasiswa eksak yang kutu buku. Mungkin mereka lelah dengan rumus-rumus serta lembar-lembar kalkulus setiap hari, tapi sekalinya break dan membaca apa yang disukainya, woah..the excitement feels like heaven! (edan, lebay kieu.. +_+) Yah, yang kuliah sastra sabar aja dengan komentar dosen atau teman yang bernada seperti ini : “kuliah sastra gampang lah, kamu kan suka baca. Sama aja kan?”

Let me punch them right in the face! punch_in_the_face-s421x345-104398

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s