Mengkritik Dunia Lewat Sastra

blahblah

“Everyone is a critic.”

Disadari atau tidak, semua orang pernah mengkritik. Komunikasi yang  tak mengenal batas dan didukung teknologi bisa membuat fenomena-fenomena tak penting sekalipun menjadi sebuah objek kritik khalayak umum, menjadikan profesi kritikus seolah-olah tak lagi eksklusif. Ya, semua orang bisa mengkritik. Akan tetapi, tetap saja ada pembeda yang menyelamatkan kritikus profesional dari serbuan kritikus amatir yang secara tidak langsung mencuri pekerjaan mereka. Latar belakang atau bidang yang digeluti kritikus tentu saja membuat kualitas kritik bisa jadi sangat jauh perbandingannya. Landasan teori serta reputasi kritikus menjadi pendukung bahwa kritik tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Namun lagi-lagi peran teknologi mendukung pihak amatir untuk bisa menemukan dan menyadur teori dengan mudah. Hanya diperlukan susunan kalimat yang elegan, apapun latar belakang orang tersebut, ia bisa membuat sebuah kritik yang tampak profesional.

People-ask-for-criticism-but__quotes-by-W.-Somerset-Maugham-82Ironisnya, terkadang kita berharap seseorang memberi komentar atau kritik untuk dijadikan sebagai dorongan, namun ketika suatu kritik muncul maka kita akan berusaha memunculkan alibi sebagai pertahanan. Atau sering juga terjadi bahwa pengkritik tidak bisa menerima kritikan balik. Cukup egois, apalagi mengingat bahwa betapa bencinya kita terhadap “kritik tanpa solusi”. Yah, semua orang memang seorang pengkritik. Apa yang mereka lakukan ya, memberi kritik!

Satu hal yang tak mudah dalam mengkritisi sesuatu adalah penyampaiannya. Kalimat-kalimat yang kita susun mungkin tampak pintar dan meyakinkan, namun diingatkan lagi bahwa tak semua orang bisa menerima kritik. Lalu bagaimana caranya agar kritik kita bisa tersampaikan tanpa harus menghadapi penampikan? Jawabannya saya temukan dalam Sastra.

Selama ini saya membaca karya-karya sastra, menjadikannya pelarian dari  membosankannya realita, hiburan tanpa perlu pusing memikirkan dampak dan rencana. Ketika masuk masa perkuliahan barulah saya sadar bahwa sebuah karya sastra bisa begitu banyak menyimpan rahasia, sangat misterius. Mungkin karena sebelumnya saya hanya membaca, belum mencapai fase mengkaji. Berangkat dari sana, saya dijejali teori-teori penelitian sastra dan banyak menemukan unsur-unsur tersembunyi di dalam suatu karya.

Penulis berbeda dengan jurnalis. Kita semua tahu bahwa jurnalis selalu dituntut kejujurannya dalam apa yang mereka tuliskan, sementara penulis adalah penipu ulung. Ia bisa membuat sebuah cerita yang mengada-ngada, mengkamuflasekan ego dan perasaannya yang disembunyikan di balik kata-kata. Semakin hebat ia menipu, semakin banyak orang yang kagum pada tulisannya. Ron-Swanson-GIFs-Memes-Nick-Offerman-Birthday-2Karena itulah, penulis juga bisa menjadi seorang kritikus yang sukses. Ia bisa mengkritik apapun, seperti juga kebanyakan orang. Ia bisa menulis kritik dalam sebuah karya, tanpa khawatir harus ditampik secara langsung oleh pihak lain.

girls

Namun menyisipkan kritik dalam karya sastra tidak begitu mudah. Beberapa karya yang pernah saya baca biasanya mengkritik fenomena sosial, politik, budaya dan agama. Hal-hal tersebut cukup rumit dan membosankan untuk dibahas oleh sebagian orang, namun seorang penulis harus bisa mengolahnya ke dalam suatu karya yang menghibur dan menggugah pembacanya. Bahkan banyak diantaranya yang tak nampak seperti kritik, hanya sebuah cerita, yang nyata atau tidak pembaca pun tak tahu. Kadang ada juga yang sengaja memberikan petunjuk-petunjuk tertentu agar maksud si penulis dapat dipahami dengan baik. Ini seperti penulis harus membuat permainan treasure hunt atau perburuan harta karun bagi para pembacanya. Yang jelas, kritik dalam sastra kebanyakan implisit, sehingga perlu dilakukan analisis terhadap unsur-unsurnya. Sastra adalah sebuah teka-teki.Dead Poets

Tapi tidak sedikit pula pembaca yang hanya membaca, bukan mengkaji sehingga kritik tidak terbaca. Konyolnya, para penulis juga pasti tidak dapat mengelak dari kritik. Bahkan ada salah satu metode penelitian sastra yang berdasarkan kritik pembaca, namun untungnya jarang sekali yang mau menggunakannya. Tentunya kembali ke pertimbangan relevansi dan pertanggungjawaban kritik tersebut, apakah pembaca itu sendiri bisa menemukan pesan yang penulis sembunyikan? Atau bisa jadi pembaca mempunyai unsur bias atas objek yang dikritik penulis, sehingga ia mengkritik balik sebagai oposisi. Yang parah adalah pembaca yang tak bisa melihat isi kritik penulis dan dengan gamblangnya berkomentar terhadap karya sastra tersebut. Terlepas dari baik atau buruknya kritik yang disampaikan penulis, percayalah, penulis juga hanya ingin menyuarakan opininya namun dengan cara yang lebih artistik daripada para pengkritik di luar sana. critics

Dan hal itu memang benar, everyone is a critic. Apapun yang kita lakukan, baik atau buruk, tidak akan terlepas dari penilaian orang. criticism

Namun ada kalanya orang-orang terlalu berlebihan sehingga yang dikritik akan merasa sangat terbebani, disinilah saya temukan sastra sebagai sarana kritik yang baik. Orang-orang mungkin akan salah paham, namun ia mengkritik dengan caranya sendiri, cara yang indah melalui sentuhan seni.

Dan tentu saja, hanya  Tuhan-lah yang dapat menilai sesuatu dengan benar dan akurat. Kritik dari orang-orang bisa muncul justru dari ketidaktahuan orang tersebut. Hal ini mau tidak mau mengingatkan saya pada lirik lagu Paramore berjudul Ignorance :

Where’s your gavel? Your jury?

What’s my offense this time?

You’re not a judge, but if you’re gonna judge me

Well, sentence me to another life

Yap! Sangat menyebalkan, memang.  Dunia sudah terlalu membosankan dan memuakkan.  Jadi, mulai sekarang mengkritiklah dengan indah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s