Desember Yang Sekarat

Ada banyak yang ingin aku tuliskan sejak sebulan yang lalu. Begitu banyak hal. Namun entah kenapa ketika Desember datang, aku malah sibuk mencari-cari sesuatu untuk mendistraksi diriku dari semua hal itu. Aku ingin rebah, terpejam dan bermimpi sangat lama. Tak usah repot-repot datangkan seorang pangeran yang ingin mencumbuku hingga terbangun. Biar saja aku berjalan jauh tersesat dalam hutan, mengikuti jejak remah roti yang tercecer di jalanan. Sungguh, aku tak keberatan.

Sejenak aku ingin buta, tuli, bisu. Koma. Desember membuatku begitu cacat. Orang berlalu-lalang mengasihaniku, memberi resep obat. Sementara sehatnya mereka adalah virus yang menggerogoti tubuhku. Mereka tidak tahu, ya…mereka takkan pernah tahu. Kalaupun ada yang ingin tahu, diagnosanya tak sampai pada tahap mengerti. Salah-salah ia berbalik menjadi racun.

Kembali ke Desember. Waktu dimana aku menjadi gelandangan. Melirik kesana-kemari dengan bimbang, maju mundur tak karuan, tangan gemetaran. Aku seperti orang yang fobia pada keramaian. Bayangkan. Betapa asingnya kau berada di tengah-tengah pesta. Berdiri sendiri dikelilingi orang-orang yang berdansa, menyanyi, tertawa dan riuh gelas beradu di bawah kelap-kelip lampu.

Kau disana. Sendirian. Pengemis gelandangan. Tak tahu harus kemana, berbuat apa. Haha, menyedihkan.

Seperti itu Desember memperlakukanku. Pun ia membuatku tak tahu harus menulis apa. Paragraf itu selalu terhenti sebelum titik. Tintaku keburu mengering karena cemas memikirkan apa yang harus kutuliskan, karena di luar sana bertebaran miliaran kata-kata yang serupa. Apa aku harus menulis hal yang sama?

Ah, sia-sia saja kan? Jika ia adalah sebuah surat, ia takkan pernah bisa sampai. Aku tak punya alamat yang harus ku kirimi. Lalu orang-orang ramai meneriakiku :

“Do’a, dasar bodoh! Do’a! Kau tak perlu khawatir soal alamat, ia pasti sampai!”

Sialan. Siapa disini yang bodoh? Apa mereka terlalu bodoh untuk berpikir bahwa aku ini begitu bodoh sampai-sampai aku tak ingat dengan do’a?

“Aku melakukannya tiap waktu, bodoh!”

Tentu saja itu jawabanku. Mereka tak ingat, justru orang miskin, kekuranganlah yang seringkali berdo’a. Orang sepertiku tahu diri. Lagipula, aku pikir lebih baik merahasiakan momen disaat aku memohon, mengemis-ngemis pada Tuhan. Oh, itu memalukan sekali bukan? Aku mementingkan privasi.

Dan satu lagi. Tuhan begitu licik. Sayangnya, Ia sah-sah saja bersikap seperti itu. Toh aku membutuhkan-Nya. Licik sekali bukan? Ia selalu memberi ancaman, seperti sandera dan semacamnya. Ia tahu titik tekananku. Benar-benar mengerikan. Entah Dia itu apa sebenarnya, terasa kadang seperti protagonis, kadang pula antagonis. Mau-Nya apa, juga kadang tak kumengerti.

Nah, soal do’a. Aku rasa tak cukup. Hei, aku juga ingin terlibat dengan pesta kalian! Itu yang ingin aku teriakkan. Tapi lagi-lagi percuma. Aku tak punya kostum untuk kupakai, tak punya mitra berdansa, tak punya lagu untuk kunyanyikan, tak punya gelas untukku bersulang.

Oh, jadi begitu. Lebih baik aku menepi, menyepi. Mengurung diri. Membuta, menuli dan mengomakan diri. Aku ciptakan sendiri Desember yang sunyi. Aku tak peduli jika Desember mulai sekarat, tapi malah aku yang mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s