Kembali ke Puisi

Sudah memasuki bulan kedua, tampaknya saya sedang kekurangan inspirasi untuk mencurahkan apapun ke dalam postingan blog. Yang terakhir adalah bulan Desember, anggap saja sebagai penutup akhir tahun.

Ada banyak sekali bahan cerita yang bisa saya olah, event yang saya datangi dan tentu saja pemikiran-pemikiran tak karuan yang bertengger bak tumor di kepala, kian waktu kian akut. Sayangnya, entah kenapa selalu ada rasa enggan.

Biasanya tiap akhir pekan saya berusaha merampungkan sebuah cerpen, tapi akhir-akhir ini waktu saya begitu tersita untuk hal-hal lain yang jelas-jelas membuat saya jengah. Alhasil kegiatan menulis saya agak tersendat. Namun ketika sedang menunggu atau dalam perjalanan di bis, saya terkadang suka gatal untuk menuliskan seuatu, entah itu di note atau memo ponsel. Kapasitas note dan memo ponsel yang terbatas membuat saya hanya  sempat menuliskan keywords, draft ide cerpen dan puisi. Draft kian menumpuk dan melapuk belum jua dituliskan, sementara puisi, untungnya ia selalu bisa menjadi dirinya yang utuh apa adanya.

Saya tak muluk-muluk. Jarang sekali sekarang ini menuliskan puisi berbait panjang. Satu bait dengan tiga sampai empat baris saja sudah cukup. Menulis puisi tak perlu berumit-rumit, menurut saya. Yang penting tajam, sekali sentuh langsung tertoreh hati pembacanya. Saya teringat cerita guru bahasa Indonesia saya di SMA tentang sebuah lomba pembacaan puisi di suatu instansi, puisinya entah karya siapa saya tak ingat, yang menarik adalah ia hanya terdiri dari satu bait, satu baris dan satu kata dengan judul yang sama.

“Pun”

Pun.

Saat itu saya mengernyitkan dahi, antara bingung dan penasaran tentang bagaimana para pesertanya membaca puisi tersebut. Yang paling membingungkan adalah apa maksud dan arti puisi tersebut? Namun kemudian saya tahu bahwa karya sastra adalah sebuah anugerah universal, tercipta bagi siapapun, bisa diartikan sebagai apapun. Dan makin pendek dan sederhana sebuah puisi, semakin ia menyimpan begitu banyak misteri.

Bukan saya sok ingin disebut misterius dengan menulis puisi-puisi pendek, entah kenapa napas kepenulisan saya sedari dulu tak begitu panjang. Saya cenderung mudah kehilangan arah. Percayalah, sayapun mengagumi mereka yang dengan piawainya menulis berbait-bait puisi dengan tajam dan masih saja pembacanya dibuat penasaran.

Baru-baru ini saya berteman dengan para penggiat sastra di media sosial, banyak hal yang saya pelajari dari mereka terutama perihal menulis. Tak jarang pula tulisan-tulisan mereka, yang untungnya kebanyakan berupa puisi, muncul di timeline saya. Ini setidaknya sedikit memercikkan kembali semangat yang sempat padam. Puisi sempat saya nomor dua-kan, namun tak pernah sama sekali saya tinggalkan. Mungkin ini memang jalan yang diperuntukkan bagi saya, karena seringkali teman-teman membaca cerpenpun, mereka terpaku pada bahasa tuturan saya yang menurut mereka tampak tersusun atas baris-baris puisi.

Pada saat pesta buku kemarin juga saya sempat melirik buku-buku kumpulan puisi, yang sedang marak adalah dari penyair yang tak lama wafat, bung Sitor Situmorang. Namun buku-buku tebal tersebut ternyata tidak dapat saya jangkau, belum lagi saya juga tidak begitu mengenal seperti apa gaya penulisan beliau. Saya butuh sebuah penyegeran, sesuatu yang bersifat ringan, tanpa banyak tekanan. Lalu saya menemukan buku puisi dari para penyair muda yang masa promosinya pernah saya simak di Twitter dari penerbit Plotpoint. Terdapat Mario F. Lawi dengan Ekaristi-nya serta Andi Gunawan dengan Hap!

#PuisiMilikSemua - dok. pribadi

#PuisiMilikSemua – dok. pribadi

Karena tak lama sebelumnya saya membaca karya bung Mario di harian Kompas, saya cenderung penasaran dengan tulisan bung Andi. Terlebih ada akun Twitter yang meng-capture sebuah puisi yang tampaknya menjadi senjata yang mampu melumpuhkan pembaca :

Tentang Tubuh yang Tabah - credit to @bentarabumi

Tentang Tubuh yang Tabah – credit to @bentarabumi

Maka diboyonglah buku tipis tersebut dan saya baca hanya dalam waktu beberapa jam. Isinya memang terdiri dari beberapa puisi pendek dan hal itu cukup membuat saya terhibur, bahwa puisi memang terlahir indah tak peduli seberapa banyak kata yang menghiasinya.

Sekarang mungkin saatnya saya kembali menulis. Saya pulang pada puisi yang menyambut di bibir sepi.

Advertisements

4 thoughts on “Kembali ke Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s