Curhat Bintang di Lautan #2

Curhat BintangTernyata aku belum mati. Setelah terjun dari ketinggian bermil-mil jauhnya, aku belum mati. Saat itu pula kusadari bagaimana langit dan bumi begitu berjarak. Hanyalah lautan samudera yang mampu menggapai, melebur rindu yang membiru.

Entah kenapa aku tak hilang ditelan atmosfer. Saat tubuhku melesat, kusangka kan hancur berkeping, tapi ternyata dingin membungkusku erat, hingga dengan perlahan serbuk-serbuk cahaya di sekelilingku berubah menjadi gelembung-gelembung air. Sesaat aku melayang-layang, terasa begitu ringan. Dan, plukk! Aku terbaring di dasar lautan yang lembut berpasir. Mataku perih, menatap sekelilingku yang luas, bau garam dan anyir. Banyak yang berseliweran di atasku, tapi aku terlalu lelah untuk menyapa mereka. Ah, biarlah. Mereka melihatku menangispun tak apa. Toh air mata akan sia-sia di lautan ini, tak berharga. Aku pejamkan saja.

***

Pertama kali aku membuka mata, aku tak ingat apa-apa. Yang kutahu tiba-tiba saja aku terbangun, melayang-layang lagi. Namun kini aku merasa terombang-ambing, seolah air laut bermain-main dengan tubuhku, melemparku kesana-kemari. Ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu saat kutertidur?

Aku mabuk, napasku tercekik, gelembung dimana-mana. Hingga aku melihat seberkas cahaya, begitu terang, begitu hangat, begitu tenang. Lalu aku mendapati diriku terbaring lagi, kali ini dengan lelah yang berlipat. Seluruh tubuhku sakit dan aku sangat haus. Lelah itu memeras semua energiku, sampai kurasakan sekujur tubuhku kian mengering. Tapi ada kehangatan yang menyelimutiku, membuatku lagi-lagi menyadari sesuatu. Pagi begitu silau. Tak biasanya aku melihatnya seperti ini, aku selalu bersembunyi.

“Ya, itu dulu ketika kau masih berada di angkasa!” ujarku sinis pada diriku sendiri.

Entah Tuhan hendak merencanakan apa dengan semua yang terjadi padaku. Apa Ia masih cemburu?

“Aw!!!” aku meringis saat ujung lenganku terinjak oleh sesuatu. Oh, kaki manusia.

Tunggu! Manusia? Yaampun, kenapa aku harus bertemu lagi dengan mereka? Sudah cukupkan saja, Tuhan! Mereka bahkan tak berdo’a lagi kepadaku, mereka menginjakku! Kau tak perlu lagi cemburu!

Aku bisa dengar manusia-manusia itu tertawa, berlarian kesana kemari. Akutakut terinjak lagi. Ingin aku pergi dari pasir lembap ini, tapi sekujur tubuhku terasa kaku, aku tak bisa bergerak. Namun tiba-tiba ada yang menarik lenganku, sesosok manusia yang menginjakku tadi. Wajahnya memperhatikanku dengan seksama, lalu ia tersenyum simpul penuh arti. Mengerikan.

Ia genggam aku di tangannya, ia sembunyikanku di balik punggungnya. Sayup-sayup bisa kudengar suara ombak, sepertinya ia berjalan ke arah cahaya pagi muncul di balik samudera yang membentang. Apa ia akan mengembalikan ku ke lautan?

“Hey…,” katanya lembut, seperti sedang menyapa seseorang.

“Hai!” jawab sebuah suara di depannya. “Aku berusaha menulis nama kita disini dan terus menerus dijahili ombak. Tapi justru aku tak mau berhenti, biar selalu ada kesempatan lagi untuk menulis nama kita yang baru,” lanjutnya ceria.

Lalu orang ini mengulurkan genggamannya, memperlihatkanku berdiam di telapak tangannya.

“Ini! Lihat apa yang baru saja kutemukan!”

“Waaahhh… cantik sekali!” seru perempuan itu.

Ujung jarinya menyentuhku, mengusap-usap permukaan kulitku yang kasar.

“Maaf tak bisa memberikanmu yang bersinar,” ujar lelaki itu.

Haha, aku merasa geli. Lagi-lagi menjadi bahan gombalan mahluk bumi.

Kemudian dari sakunya ia keluarkan seutas tali, ia ikat salah satu ujung lenganku. Di antara kedua ujung tali itu aku berputar-putar, tersenggol angin. Dan perempuan itu menatapku dengan mata yang haru.

“Kemarilah…,” lelaki itumemberi isyarat agar ia mendekat.

Lalu ia tautkan simpul talinya di balik rambut hitam panjang perempuan itu.

Mereka bergandengan tangan, erat jemari mereka menyatu, mengabaikan cemoohan ombak yang berseru. Aku yang kini tergantung di leher wanita itu pasrah, kembali terperangkap di tengah kehangatan yang membuatku gerah. Sementara jingga di ujung sana tampak sumringah, memantulkan kemilau yang melilit di masing-masing salah satu jari mereka. Semakin gerah, aku mulai jengah.

Tuhan, puaskah Kau kini membuatku cemburu? Kau telah berhasil membalaskan dendam-Mu.

 ***

Bandung, November 2014

 

 

Baca sebelumnya : Curhat Bintang di Lautan #1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s