Satu Tahun Berfiksi Dengan Aksara

“Aku tak ingin hidup di dunia nyataaaaaa….!!!”

Itu teriak saya saat tahu bahwa tangan saya tak bisa lagi bergerak bebas. Sekarang ada tali-tali yang mengikat pergelangan dan jari-jari tangan saya, membuat sulit menulis apa yang saya inginkan.

Selama satu tahun ke belakang, saya dengan urakannya mencorat-coret kertas tak karuan, menciptakan sebuah dunia dan penghuninya. Terkadang begitu absurd, tapi saya tak peduli. Yang penting puas dan senang, emosi saya tersalurkan. Sekarang? Sulit sekali. Imajinasi saya seolah dibatasi.

Jadi sebelum kebebasan saya terpasung (halah!), biasanya saya menumpahkan kejengahan saya ke dalam sebuah tulisan, sebuah fiksi. Hal ini membuat saya ketagihan karena saya sudah bosan dengan realita, haha. Untuk melupakan hal-hal duniawi dalam lima hari kerja, saya luangkan untuk jalan-jalan ke dunia fiksi pada sore akhir pekan. Sebenarnya cuma ngumpul dan ngobrol di perpus sih, gak beneran jalan-jalan haha. Tapi jiwa saya cukuplah mengawang ke dalam cerita yang tiap pekannya kami diskusikan bersama.

Di perpustakaan Salman atau disebut juga Salman Reading Corner-lah saya meng-amnesia-kan diri saya dari pikiran dan memori kehidupan realita, pokoknya kalau sudah gabung ngobrol dengan teman-teman langsung lupa kalau saya bahkan belum bayar listrik kosan, ahahaha…

Kelas Menulis Fiksi Aksara Salman ITB, setiap sabtu sore di Salman Reading Corner. (credit : Aksara Salman ITB)

Kelas Menulis Fiksi Aksara Salman ITB, setiap sabtu sore di Salman Reading Corner. (credit : Aksara Salman ITB)

Teman-teman yang tergabung dalam Kelas Menulis Fiksi Aksara Salman ITB ini, berasal dari latar belakang dan memiliki personalitas yang berbeda. Jadi tak heran kalau sekalinya kami ngumpul, obrolannya bisa ngalor-ngidul tak karuan. Lho, memangnya ngobrol apa aja sih? Biasanya komunitas menulis kan orangnya suka ngomongin hal serius? Well…gimana yah…. Disebut serius, kami memang sering berdiskusi tentang aspek-aspek kehidupan, agama, budaya, dan sebagainya.  Bisa dibilang cukup serius, karena hal-hal itulah yang ikut membantu kami merancang sebuah cerita yang berbobot. Tapi entah kenapa selama setahun saya bersama teman-teman, kok selalu saja ada hal-hal konyol yang nyangkut di sela forum. Bahkan sepertinya lebih kebanyakan bercandanya deh seingat saya, hahaha!

Tapi justru karena itulah, saya selalu rindu hari Sabtu. Jarang sekali saya bisa tertawa lepas tanpa memikirkan masalah yang saya punya, meskipun  sering terjebak writer’s block dan bingung mau menulis apa untuk didiskusikan di kelas nanti. Kebetulan saya juga diamanahi sebagai PJ kelas fiksi periode 2014, jadi mau tidak mau saya harus rajin hadir dan kontrol kelas.

Hal yang paling saya syukuri adalah atmosfer dan hubungan antar anggotanya yang sudah seperti keluarga, langsung klop dan akrab. Pas awal-awal kelas fiksi dimulai dan saya baru dilantik jadi PJ, anggotanya memang masih sedikit dan masih pada jaim-jaim. Tapi untungnya lagi mentor menulis tetap kami, Teh Fen-Fen, selalu bisa mencairkan es-es yang tadinya membuat kami kaku. Beliau baik dan easygoing sekali! Saya sendiri sempat heran kenapa beliau bisa begitu sabar menghadapi murid-muridnya yang begitu malas, termasuk saya salah satunya haha. Mungkin juga teman-teman kelas nulis sempat berpikir, kenapa PJ-nya lebih galak dan nyebelin daripada mentor nulisnya? Muahaha…

Sekarang satu tahun sudah berlalu, saya sudah lengser jabatan. Alhamdulillah PJ periode 2015 adalah laki-laki, karena  selama ini mayoritas yang rajin datang adalah perempuan, semoga dengan PJ laki-laki bisa jadi seruan bagi para anggota lelaki lainnya hehe. Kebetulan nama PJ kali ini adalah Gigih, jadi semoga bisa dengan gigih menjalankan tugas ya… Aamin.

Meskipun saya sedang galau-galaunya gara-gara merasa begitu terkekang akhir-akhir ini, diam-diam kemarin menyelinap datang lagi ke kelas nulis setelah absen beberapa sesi. Dan efeknya…wow…saudara, saudara! Kehampaan itu ternyata memang tiada! *lebay*

Obrolan kami seru sekali pekan kemarin. Kebetulan kami kedatangan tamu, seorang teman dari fakultas Psikologi Unpad yang kebetulan dosen pembimbingnya juga pernah mampir ke kelas nulis. Yup! Kami senang banyak teman-teman yang  bukan anggota kelas menulis fiksi juga sering ikut mampir dan berdiskusi dengan kami. Kelas yang biasa dimulai selepas ashar, bisa berlanjut sampai adzan maghrib berkumandang, bahkan kadang sampai menjelang isya. Kalau sudah begini, saya suka males pulang ke kosan gara-gara terlanjur pewe. Seru pokoknya!

Obrolan kemarin seputar psikologi manusia yang unik, bareng kang Rio, dari fakultas Psikologi Unpad. (credit : kang Rio :D)

Obrolan kemarin seputar psikologi manusia yang unik, bareng kang Rio, dari fakultas Psikologi Unpad. (credit : kang Rio :D)

Kalau dipikir-pikir, saya ikut kelas menulis fiksi memang tak serajin dan tak seberkompeten teman-teman yang lain. Karya yang saya hasilkan belum begitu banyak dan tidak begitu berambisi untuk dipublikasikan. Saya menulis semata-mata untuk menumpahkan emosi saya yang tertampung, tak bisa terungkapkan (hahay). Tapi saya senang, melihat teman-teman yang lain kian hari begitu semangat, semakin produktif dan berbobot karya-karyanya. Apalagi dengan kabinet pengurus Aksara yang baru, tampaknya akan membawa beberapa perubahan bagi kemajuan programnya, terutama kelas menulis, majelis film dan buku. Semangat ya…!!! Dan semoga saya bisa menyelinap ke kelas fiksi lagi, hehehe.

Oke, saatnya kembali ke dunia nyata. Huffffttt… +_+”

Advertisements

One thought on “Satu Tahun Berfiksi Dengan Aksara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s