Drama Pertama Sang Ratu Drama

Banyak yang bilang, saya terlalu perasa. Sedikit saja merasa ada sesuatu yang salah, tak jarang saya akan berlarut-larut memikirkankannya. Tak enak, kesal, sedih, takut, adalah perasaan-perasaan yang tidak asing dilihat oleh teman-teman saya. Jikalau di tengah obrolan tiba-tiba saya bungkam atau menghela napas dalam-dalam, mereka tahu, pasti saya sedang setidaknya merasakan salah satu perasaan yang telah disebutkan di atas. Dan pastinya, teman-teman akan meminta saya untuk bercerita. Disatu sisi, saya sungguh berterimakasih karena saya bisa melihat niat baik mereka untuk menghibur saya. Di sisi lain, saya agak enggan, sebab saya sering meracau. Penyebab saya merasa seperti itu sebenarnya adalah hal-hal kecil bagi orang lain, tapi saya seolah membesar-besarkannya. Ketika saya bercerita, pasti berbelit-belit dan kadang menggunakan bahasa yang tak mudah dicerna orang dalam konteks percakapan biasa. Tak hanya itu, ketika saya merasa senang atau biasa-biasa saja pun ada kalanya kalimat-kalimat yang biasa orang-orang temukan dalam dialog telenovela atau drama korea meluncur dari mulut saya. Hal ini kadang membuat teman-teman saya cengar-cengir, tak tahu harus merespon seperti apa. Padahal, saya sama sekali tak punya tujuan apa-apa dengan bergaya bahasa seperti itu hahaha. Contohnya pernah ketika berkunjung ke rumah seorang teman, kami semua sedang duduk mengobrol di ruang tamu dan dari pintu yang terbuka, saya bisa melihat dengan jelas sebuah tanaman kaktus kecil yang teman saya letakkan di teras.

saya : *diam menatap teras*
teman : ada apa?
saya : apa kaktusnya boleh dipindah?
teman : kenapa?
saya : kasihan, dia terlihat sangat kesepian. Aku gak tega.
teman : ……..
saya : *mindahin kaktus ke pojok dekat jendela*
teman : bukannya kalau dipindahin ke situ malah jadi tambah kasihan?
saya : tak apa, asalkan kesepiannya luput dari pandanganku…
teman : *nyekek leher sendiri*

Seperti itulah, hingga saya akhirnya dijuluki Queen of Drama alias Sang Ratu Drama. Terkadang saya kasihan juga pada teman-teman saya, mungkin mereka merasa bosan, geli atau semacamnya saat mengobrol dengan saya. Tapi yah…mau bagaimana lagi? Jujur, semua itu kadang saya ucapkan tanpa saya sadari, hehehe.
tumblr_lkh5fyKIFw1qf4tn0sorry_sighs_by_elixirbeauty-d8muh9q
Akan tetapi, ketika saya benar-benar diharuskan bermain drama untuk proyek ujian akhir kelas Deutsche Drama di kampus, ternyata merupakan tantangan yang cukup sulit. Soal bahasa memang tak perlu dibahas lagi. Intonasi, mimik dan gestur adalah yang paling penting, sebab penontonnya tidak hanya dari jurusan sastra Jerman, sehingga ketiga hal tersebut sangat krusial untuk membantu penonton yang tak menguasai bahasa jerman dalam menginterpretasikan isi dramanya. Namun, masalah terbesar saya justru ada di suara. Saya yang terkenal pendiam dan bersuara kecil, tiba-tiba harus berbicara dengan suara menggelegar, sebab para pemainnya tidak akan menggunakan mikrofon selama pertunjukkan. Bagaimana mungkin?

Dan ternyata, setelah beberapa kali latihan, saya memang tergolong yang paling sering diomelin sang sutradara, hahaha. Sempat ingin menyerah, karena saya minder di tengah-tengah pemeran  lain yang kebanyakan memang ikut organisasi teater dan sudah berpengalaman bermain drama. Saya merasa lebih cocok berada di balik panggung. Lagipula, peran saya cuma jadi figuran, cuma sekitar 5-7 menit! Tetapi terlambat untuk kembali, tim Schausspieler (pemeran) pun masih kurang SDM, sehingga ada beberapa yang turun tangan mengemban tugas ganda. Toh pada saat-saat terakhir, omelan dari sutradara mulai berkurang, meskipun pada kenyataannya saya masih belum juga bisa memakai suara perut, tapi katanya sudah lumayan kencang. Ahey!

Kemudian tibalah saatnya pertunjukkan dilaksanakan. Jujur, kami semua merasa persiapan kami sama sekali belum matang. Dengan properti minim, kostum sederhana dan bekal gladi resik yang hanya dua kali saja, kami semua memasrahkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Drama yang kami tampilkan berjudul Woyzeck, merupakan karya salah satu dramawan legendaris Jerman, Georg Buechner. Siang itu sempat turun hujan, hingga membuat kami hawatir kalau penonton banyak yang tidak jadi datang. Untungnya, menjelang sore hujan mulai reda dan orang-orang pun mulai berdatangan. Alhamdulillah…

Penonton sudah pada ambil posisi!

Penonton sudah pada ambil posisi!

Acara dipandu oleh duo host kocak, Kang Rizki dan Kang Sajjana dari Linguistik Sasjer 2011

Acara dipandu oleh duo host kocak, Kang Sajjana dan Kang Rizki dari Linguistik Sasjer 2011

Dosen Deutsche Drama kami yang cantik, Frau Marlene Klaessner, memberikan sambutan

Dosen Deutsche Drama kami yang cantik, Frau Marlene Klaessner, memberikan sambutan

Sebelum acara inti, teman-teman dari Pamass ikut menghibur penonton juga. Hatur nuhun, akang-teteh!

Sebelum acara inti, ada teman-teman dari Pamass yang ikut menghibur penonton. Hatur nuhun, akang-teteh!

Nah, drama yang ditunggu-tunggu akhirnya mulai juga. Bercerita tentang kehidupan seorang prajurit bernama Franz Woyzeck, yang berasal dari kelas masyarakat bawah. Meskipun seorang prajurit, Woyzeck adalah orang yang penakut dan ternyata juga mempunyai kelainan psikis. Tak jarang, Woyzeck diintimidasi oleh orang-orang di sekitarnya.

Dibentak atasan, diomelin isteri, dimarahin dokter, dihajar orang. Nasibmu, Zeck.... T.T

Dibentak atasan, diomelin isteri, dimarahin dokter, dihajar orang. Nasibmu, Zeck…. T.T

Meskipun begitu, Woyzeck mempunyai sahabat bernama Andres yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Tapi kalau lama-lama mendengarkan ocehan orang gila, ya dia capek juga sih sepertinya.

Muka Andres udah kesel, tuh...

Muka Andres udah kesel, tuh…

Ini beberapa spoiler lainnya yang tak boleh terlewatkan :

Adegan highlight yang membuat jari para penonton mengeriting dan membuat Woyzeck marah-marah tentunya, hahaha =D

Adegan highlight yang membuat jari para penonton mengeriting dan membuat Woyzeck marah-marah tentunya, hahaha =D

w2q1jVlEf1eJqYWiP8KvMUrrRxBJ-Kt4g4CpTSJqdKg

And…oh, the tragedy!

Tenang, adegannya tidak melulu tragis. Ada yang menghibur seperti ini juga :

Bonus adegan tarian dari Tanzengruppe, keren!

Bonus adegan tarian dari Tanzengruppe, keren!

Nah, ini adegan apa coba? +_+

Nah, ini adegan apa coba? +_+

Lalu, bagian saya mana? Hahaha… Saya baru muncul pada scene 14, maaf lama menunggu!

Saking stressnya latihan drama, saya jadi brewokan... +_+

Saking stressnya latihan drama, saya jadi brewokan… +_+

Ini bukan ulama arab yang sedang berdakwah ya, saudara-saudara sekalian!

Ini bukan ulama arab yang sedang berdakwah ya, saudara-saudara sekalian!

Dialog saya tidak terlalu banyak dan untungnya bukan seperti yang biasa saya ucapkan kalau sudah kerasukan “jurig” telenovela. Begini-begini, saya juga sempat mengintimidasi Woyzeck lho! Tapi sayang, muka saya tidak tampak karena pengambilan fotonya dari sisi panggung.

Ini adegan keren lho sebenernya! *maksa*

Ini adegan keren lho sebenernya! Keren! *maksa*

Huufffttt…! Lega sekali rasanya saat pertunjukkan kami selesai. Tak disangka, para penonton juga bertepuk tangan dengan meriah. Kami juga mendapat respon positif dari pihak dosen dan tamu kehormatan, yakni beberapa perwakilan dari Goethe Institut.

Para pemain memberi salam kepada penonton ^_^

Para pemain memberi salam kepada penonton ^_^

DSC_0361

Seluruh kru berfoto dengan dosen dan tamu dari Goethe Institut

Frau Klaessner yang cantik dan si "sayah" yang mendadak ganteng =3

Frau Klaessner yang cantik dan si “sayah” yang mendadak ganteng =3

Terimakasih teman-teman, atas pengalaman dan kerjasamanya! Ini adalah pentas drama yang pertama bagi saya, mungkin juga yang terakhir. Entahlah, meski menyenangkan, saya merasa lebih menikmati menjadi Ratu Drama di kehidupan nyata. Hehehe….

(Danke schoen Tari und Oliv, fuer die Photos!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s