Minat Baca dan Perilaku Berlalu Lintas Orang Indonesia

Emang ada hubungannya antara minat baca dan masalah lalu lintas? Ada donk!  Tapi jangan tanya soal statistik minat baca  ataupun tingkat kemacetan di Indonesia ya, yang pasti dua-duanya suka bikin gregetan.

Peringatan Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day yang jatuh pada 08 September ini membuat saya teringat kepada beberapa kejadian yang berhubungan dengan lalu lintas kota dan perilaku masyarakatnya yang membuat saya ingin tertawa sekaligus geleng-geleng kepala.

Hari itu adalah Selasa siang yang terik di kota Bandung. Saya dan dua teman saya sedang dalam perjalanan dari kampus yang berada Jatinangor menuju Dipati Ukur. Salah satu angkutan umum andalan untuk menempuh rute tersebut adalah bus Damri yang kebetulan letak kedua pangkalannya berada di lingkungan kampus kami (mungkin itulah kenapa nama kampus kami selalu diplesetkan menjadi Universitas Pangkalan Damri).

Di sekitar jalan Moh.Toha, bus yang tak berkondektur itu diberhentikan oleh seorang lelaki yang berdiri di trotoar bersama dua orang wanita sambil membawa beberapa tas. Ketika pintu terbuka, mereka tak langsung naik, tetapi malah berteriak, “Ini bus yang ke Cibiru???”

Saya yang kebetulan duduk berseberangan dengan pintu, mencoba menjawab bahwa bus ini tidak ke Cibiru, melainkan ke Dipati Ukur atau melewati Dago. Mungkin karena siang itu terik sekali, ditambah suara transportasi lain yang bersliweran, suara kecil saya agak sulit terdengar. Si bapak dan ibu itu masih saja berteriak, “Ini ke Cibiru, enggak?”

Belum pernah lihat Ultraman marah-marah, ya?

Belum pernah lihat Ultraman marah, ya?

“Enggaaaakkkkk!!!!” balas saya sambil menggelengkan kepala.

Penumpang lain di belakang saya ikut berteriak sambil melambaikan tangannya, “Ini ke DU, pak! Bukan ke Cibiru!”

Rupanya bentuk mulut kita saat mengucapkan “DU” hampir mirip saat mengucapkan “Cibiru”, jadi mereka masih saja bertanya “Ini bener ke Cibiru?”

“Enggak, pak! Dago! Dago!” seru saya sambil menyilangkan tangan ala Ultraman.

Barulah si bapak ‘ngeh, “Oh… bukan ya?” Buset dah pakkkk…

Dan bus kami akhirnya melaju kembali setelah mendapat klaksonan dari mobil lain di belakang. Mungkin ada hampir dua menitan bus kami berhenti cuma untuk meladeni si bapak tadi. Teman-teman saya langsung menepuk-nepuk pundak saya, menyuruh bersabar.

Setelah itu saya langsung curhat pada mereka, bahwa saya seringkali menemui orang yang salah naik angkutan umum dan membuat jalanan macet dan hal itu membuat saya yang kutu buku sekaligus mahasiswa prodi sastra gregetan.

Saya tahu bagaimana mahasiswa sastra sendiri sering malas-malasan untuk baca karya sastra, belum lagi jika hal tersebut kita kaitkan dengan minat baca orang Indonesia yang minim sekali itu. Banyak LSM yang bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk meningkatkan minat baca masyarakat dengan menyediakan perpustakaan keliling di desa-desa atau fasilitas sejenis lainnya. Tetapi tiba-tiba saya merasa usaha mulia tersebut semakin kecil harapannya setelah mengalami kejadian dengan bapak yang tak jadi naik bus tadi.

Pasalnya, jangankan membaca buku, membaca rute bus yang terpampang di kaca dan badan bus saja sudah malas.

Teman-teman saya langsung tertawa mendengar pernyataan saya. Apalagi saya juga menceritakan kejadian lainnya yang saya alami sebelumnya. Waktu itu saya menunggu bus di pangkalan depan kampus Jatinangor. Di sana ada dua baris pemberhentian, yang berada di sisi trotoar adalah untuk bus yang menuju Dipatiukur, sedangkan yang di tengah adalah untuk bus yang menuju Elang.

Pangkalan Damri

Pangkalan Damri

Bus Dipatiukur memang sering telat datang dan armadanya akhir-akhir ini tampak lebih sedikit, jadi banyak orang yang harus menunggu di pangkalan. Saat itu juga sama, saya beserta sekumpulan orang lainnya berusaha menunggu dengan sabar selama satu jam lebih, sementara bus Elang sudah tiga kali datang silih berganti.

Lalu ada bapak penjual tahu yang menawarkan dagangannya sambil mengajak ngobrol orang-orang di sana,

“Mau ke DU ya, dek? Emang lama bus DU mah, suka kena macet. Mending nunggunya sambil ngemil tahu, biar gak laper.”

Seperti itu bapak tersebut mengasongkan dagangannya kepada calon penumpang yang kebanyakan adalah mahasiswa, sampai ia menghampiri seorang perempuan muda yang berdiri tak jauh dari saya. Si bapak itu mengucapkan kalimat yang sama dan di balas oleh sebuah pertanyaan yang tak disangka-sangka,

“Kalau bus yang ke Elang, mana ya pak?”

TEEETTTTOOOOTTTTT………

Saat itu juga saya hampir jatuh pingsan antara menahan tawa dan rasa tidak percaya. Soalnya, beberapa menit yang lalu bus Elang yang ketiga baru saja meninggalkan pangkalan dan saya tahu, bahwa perempuan muda ini juga berdiri dan menunggu sejak satu jam yang lalu! Bukan main…. Tiga buah bus yang berukuran besar itu berhenti di depan mata kami setiap 30 menit sekali. Tentunya ada banyak waktu yang cukup untuk sekadar membaca satu baris tulisan rute yang terpampang di kaca depan bus itu. Alamakkkk!

Tuh, rutenya terpampang jelas!

Tuh, rutenya terpampang jelas!

Dan  si bapak penjual tahu itu pun menjawab, “Loh, itu yang barusan busnya berangkat????”

Ada juga tentang seorang ibu yang menunggu di halte dan naik bus, lalu terpaksa  turun lagi karena ia salah jalur. Seharusnya ia naik dari halte yang ada di jalur seberang. Padahal, di tembok halte sendiri tertulis rute angkutan yang melalui jalan itu. Dengan kata lain, kita bisa tahu ke arah mana angkutan tersebut pergi karena daerah tujuan biasanya tertulis di kanan/akhir. Misalnya, Bus Damri Jatinangor – Dipatiukur. Berarti bus yang lewat depan halte itu menuju Dipatiukur. Beda dengan tulisan Bus Damri Dipatiukur – Jatinangor, yang berarti menuju Jatinangor.

Daftar rute angkutan di tembok halte. Dibaca, ya!

Daftar rute angkutan di tembok halte. Dibaca, ya!

Tawa teman-teman saya makin nyaring. Dari cermin depan saya juga bisa melihat si bapak supir cengar-cengir mendengar ocehan saya. Tapi memang hal ini berkali-kali muncul di benak saya. Masa baca rute yang cuma sebaris aja males?

Dan itu barulah satu kasus. Belum lagi kasus para pelanggar aturan lalu lintas yang tampaknya sangat malas, bahkan untuk sekadar membaca satu huruf saja. Bayangkan, satu huruf! Jadi tak heran lagi kalau minat baca orang Indonesia cuma seuprit. Duh, kalau seperti ini terus bagaimana nasib Indonesia? Pesimis kan jadinya…. 😦

Pura-pura gak punya mata #cageurbray

Pura-pura gak punya mata #cageurbray

Dari kasus-kasus di sekitar kita, saya semakin yakin bahwa melek huruf dan membaca bukan cuma kewajiban pelajar dan mahasiswa, tapi juga menjadi hak dan tanggung jawab setiap lapisan masyarakat. Kalau saja kita mau membaca rute bus,  kita bisa berhemat ongkos dan tidak menyebabkan kemacetan karena harus buru-buru turun dari bus yang salah.

[600-x-400]-International-Literacy-Day

“Malu bertanya, sesat di jalan.

Malas membaca, salah angkutan.”

 

Advertisements

2 thoughts on “Minat Baca dan Perilaku Berlalu Lintas Orang Indonesia

  1. dalam beberapa kasus, persentase membaca seseorang nggak mempengaruhi dia dalam bersikap. Contohnya di beberapa bazar buku, tetep aja pada sembarangan (entah itu soal antrian atau milih-milih buku lalu diberantakin seenaknya) meski dia nenteng buku sekarung, hehe. In my humble opinion, semuanya kembali ke pendidikan moral selama di rumah, bersama orang tuanya. 🙂

    • Hm..ini sarkas aja sih, teh. Lagipula saya melihat bukan dari minat baca per individu, tetapi secara general. Hehehe.. Tapi saya setuju soal pendidikan moral, itu memang yang harus menjadi akarnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s