Extremely Loud & Incredibly Close : Permainan Aneh dan Gila Foer

7894773Seringkali saya merasa bahwa diri saya aneh, seperti alien yang tinggal di planet yang salah. Orang-orang tak memahami saya dan saya juga tak bisa menyampaikan apa yang saya rasakan agar mereka mengerti. Mungkin itulah sebabnya saya begitu senang ketika menemukan sebuah buku aneh, tentang orang aneh yang ditulis oleh pengarang aneh : Extremely Loud & Incredibly Close karya Jonathan Safran Foer.

Kau mengeluh sebab kau merasa aneh dan orang-orang berpikir serta melihatmu sebagai orang aneh. Tapi di luar sana ada pula yang berusaha keras menciptakan keanehan dalam dirinya agar orang-orang memperhatikannya, ingin agar mereka bisa melihatnya sebagai suatu keunikan, sesuatu yang spesial.

Yes, Oskar! They do that to me too!

Begitu halnya dengan novel ini. Entah kepribadian Foer seperti apa, tapi ia berhasil menciptakan sebuah keanehan. Dalam dialog, penulisan, desain dan pemikiran, Foer membuat dahi saya berkernyit saat saya membolak-balik halaman-halaman bukunya dengan cepat, menelusuri gambar-gambar yang ia selipkan di sana. Pertanyaan pertama : apa isi ceritanya? Foer berhasil membuat saya penasaran.

Lalu dahi saya kembali berkernyit saat saya membaca beberapa lembar pertama novel ini, tapi saya juga tertawa. Bab pertama novel ini berjudul : “Apa-apaan?” Dan itu menjadi pertanyaan saya selanjutnya : apa-apaan ini?
Sejak awal Foer menyuguhkan sebuah pemikiran-pemikiran aneh, tapi cerdas. Itu sama sekali tampak tak masuk akal, tapi cerdas, sekaligus konyol. Dan itu membuat saya terhibur. Ia berhasil merayu saya untuk membaca bukunya.

Kisahnya cukup panjang dan memusingkan. Tapi keanehan inilah justru yang membuat saya terus memindai halaman demi halamannya, ingin tahu akhirnya seperti apa. Sebenarnya ini cukup sulit, sebab pemikiran tokohnya yang aneh bercampur dengan penulisan sudut pandang dan alur yang aneh pula. Ini seolah Foer mempermainkan saya. Saya membayangkan bahwa ia adalah seorang penulis yang kesepian dan ia meminta saya untuk bermain dengannya dalam permainan yang diciptakannya. Ini seperti menyusun teka-teki, tapi saya tak peduli sebab permainan ini tak membahayakan siapapun, kecuali konsentrasi dan ideologimu. Dan tentunya waktu yang bisa terbunuh.

Apa-apaan ini????????

Di pertengahan, banyak yang saya lakukan. Saya mengernyit, tertawa, dan menangis. Saya juga mengangguk, menyetujui perasaan-perasaan tokoh yang dituangkan dengan baik, tak berceceran. Ini sangat aneh, sebab buku ini adalah buku yang menyentuh sekaligus menggelikan pada waktu yang bersamaan. Bagaimanapun, tokoh utama anak berusia sembilan tahun tampak terlalu rumit untuk menanggung dan merasakan semuanya. Tapi lagi-lagi Foer menjejalkan doktrinnya bahwa yah…dia hanya anak kecil, lalu apa? Anak kecil justru tak peduli dan ia bisa menjadi apapun. Hidup akan tetap mempermainkannya sementara ia asyik bermain.
Oke, oke… Terserah kau saja, Foer!

Namun ketika permainan itu selesai, justru saya  kecewa. Bukan karena permainannya berakhir, melainkan skor akhir yang didapat ternyata tak terlalu memuaskan. Setelah segala keanehan yang memusingkan itu, mereka berakhir dengan cara yang tidak semenarik kemunculannya. Ini membuat saya bingung, seperti tak percaya menerima sebuah kekalahan. Maka muncul lagi pertanyaan : apa ada yang saya lewatkan?

Ugh, fine!

Tapi setelah kembali membolak-balik halamannya, ia tetap seperti itu. Tak ada yang berubah. Sepertinya kekecewaan yang saya rasakan sama dengan kekecewaan yang dirasakan Oskar dalam ekspedisinya mencari lubang kunci di seantero New York.

Kesimpulan terakhir : Foer adalah penulis gila yang cerdas. Ia menuliskan kegilaan dengan segala kegilaan yang dimilikinya dengan cara yang gila. Dan itu membuat saya hampir gila.
Baiklah, ini memang gila. Tetapi saat kau merasa bosan dengan dunia yang cukup gila akhir-akhir ini, tidak ada salahnya melampiaskannya pada waktu dan membunuhnya dengan membaca buku gila ini. Meskipun saya sarankan untuk tidak terlalu berharap pada akhir ceritanya. Yang terpenting adalah  menikmati prosesnya!

I... wanna just slow down, It’s a crazy world!

I… wanna just slow down,
It’s a crazy world!

Sebenarnya novel ini telah selesai saya baca sekitar beberapa bulan yang lalu. Suatu saat saya membacanya di kantin kampus yang tak seramai biasanya. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berkumpul dan memesan sarapan pagi sambil mengobrol, entah tentang apa. Beberapa dari mereka sibuk membolak-balik buku-buku tebal yang sampulnya terlihat membosankan, lalu saya teringat bahwa saat itu adalah musim ujian. Haha, musim ujian yang membuat mereka begitu panik. Sementara saya sendiri dengan entengnya menyesap es Cappucino, membaca novel aneh ini sambil mendengarkan Crazy World-nya Boys Like Girls. Soundtrack yang cocok!

Dan lagi-lagi saat itu saya merasa aneh sendiri. Tidakkah orang-rang menghawatirkan hal lain, seperti kehidupan, misalnya? Atau kematian? Tetapi tentu saja saya tidak bisa tiba-tiba mengajak mereka berdiskusi tentang itu saat satu-satunya hal yang mereka pikirkan adalah nilai, bukan? Sialan, kau Foer! Sepertinya buku ini bergentayangan merasuki saya.

I’m not that pathetic!

Ngomong-ngomong, rencananya minggu ini saya  akan membahas buku ini dengan teman-teman dari Aksara. Kita lihat, apa cuma saya yang alien seperti ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s