Kunang-Kunang Mabuk

fireflies-zoom

Di ruangan ini tak biasanya kami berdebat. Aku memijiti keningku yang sedari tadi berkerut, mencoba memahami alasan-alasan yang keluar dari bibirnya yang bergetar. Dari tatap matanya, aku tahu ia sedang ketakutan. Tapi tetap saja aku tak paham. Kenapa harus takut terhadap sesuatu yang telah kau pilih sendiri, terlebih lagi jika sesuatu itu membuatmu lebih bahagia?

Ia takut jika suatu saat kami menghadapi kebuntuan, tak punya lagi tempat untuk berlari. Karena kami berdua sama-sama tahu, kenyataan begitu sempit dan membosankan. Aku tak pernah merasa bahwa kami sedang lari dari kenyataan. Anggap saja kami sedang mabuk dan mengambil arah jalan lain secara tak sadar.

“Kita tidak lari dari kenyataan, ini bukanlah pelarian. Kita hanya tersesat!”

Berkali-kali aku yakinkan padanya, tapi ia tetap gelisah. Di dekat jendela ia duduk gemetar, seolah ada orang diluar sana yang mengintai.

“Dia mulai bertanya! Aku tidak mau berbohong lebih lama padanya, aku takut!”, matanya memerah, ia terisak.

Aku mendekatinya, merangkulnya ke dadaku. Kuelus lembut rambut sebahunya, mencoba menenangkannya.

“Sshh..sudahlah, aku mengerti. Kalau begitu, kau tidak perlu berbohong lagi. Katakan saja padanya bahwa..”

“A-apa kau gila?”, ia mendongak, melepaskan rangkulanku.

“Lalu apa? Kau seolah sudah tercebur saat ini, kau hanya perlu menyelam saja!”, ujarku bermetafora.

Ia terdiam menatapku, kehabisan kata-kata. Aku tahu mungkin aku ini seperti setan yang begitu menyesatkan, tapi sejak awal dia juga sudah tersesat. Kami berdua memang tersesat.

“Sepertinya aku butuh waktu untuk sendirian,” ia beranjak.

Aku memegang bahunya, mencoba mencegahnya pergi.

“Dengar, kita sama-sama tidak bahagia. Kau dan aku akhirnya mencari sendiri kebahagiaan itu, benar? Nah, aku mengerti jika kau ingin menenangkan dirimu untuk sesaat. Tapi kenapa kau mesti takut untuk kehilangan apa yang tidak membuatmu bahagia?”

Dia terlihat bingung, “Ya, tapi aku harus…”

Cepat-cepat aku membungkamnya dengan bibirku, sama sekali tak memberikannnya kesempatan untuk melepaskan.

Setelah beberapa saat kami berhenti, lalu aku berkata, “jangan lama-lama”.

Ia mengangguk, mengambil tas dan mantelnya. Di ambang pintu ia berbalik menatapku. Aku tersenyum, lalu menatapnya pergi. Setelah suara langkah kakinya makin samar, yang kudengar hanyalah hening. Aku hanya terduduk diam meraup mukaku yang kusut.

***

Sudah empat bulan lebih sejak ia meminta waktu, aku belum bertemu dengannya lagi. Entah ini malam ke berapa aku melangkahkan kakiku menuju bar di sudut kota, berharap aku mendapati wanita itu sedang duduk termangu di hadapan gelasnya yang setengah kosong. Seperti saat pertama kali aku melihatnya. Pertemuan pertama kala itu, permulaan kami melebur sepi sampai pagi.

Saat itu aku menghabiskan berlembar-lembar uangku dalam beberapa tegukan. Bahkan aku menawarkan diri untuk membayar bergelas-gelas minuman pada orang lain yang duduk di kursi bar, termasuk wanita itu. Dari penampilannya, aku tak tahu ia mampu minum sebanyak itu.

“Aku benci uang. Minumlah sebanyak yang kau mau agar aku bisa mengenyahkan semua uang ini dari dompetku,” ujarku setengah mabuk.

Ia menatap gelasnya dan berkata, “aku juga benci uang.”

Malam ini aku duduk di tempat biasa, memesan minuman yang tidak langsung aku teguk. Aku hanya menatap gelas itu, seperti yang ia lakukan dulu.

Hot Toddy.

Aku mendengar suara lembut yang khas di ujung meja, lalu seraut wajah yang aku nanti selama ini tertangkap mataku.

“Sepertinya aku memang tidak bisa lari darimu, ya?” ia berkata sambil tersenyum sinis tanpa menatapku.

Aku menggeser duduk ke sebelahnya, “apa aku ini pelarian bagimu?” tanyaku.

Ia tak menjawab, lalu meneguk minumannya pelan.

“Apa Hot Toddy itu juga sebuah pelarian?” aku menunjuk gelasnya, lalu mengangkat gelasku, “kau biasanya memesan Blue Moon.”

Ia tersenyum, “aku sedang ingin membakar diriku sendiri.”

“Aku tahu, kau kedinginan bukan?” tanyaku sambil menatapnya , ia menunduk.

“Ya.”

Malam itu kami kembali tersesat. Jalanan terlalu gelap bagi langkah kami yang terhuyung untuk menemukan jalan pulang yang benar. Harusnya kami pergi dengan arah berbeda, tapi sudah terlalu larut untuk mengetuk pintu dan membangunkan penghuni rumah yang terlelap dengan resah.

“Ya ampun, aku benar-benar menjadi penghianat sekarang,” ia tertawa sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.

“Setidaknya kau tidak menghianati dirimu sendiri, kau menemukan kebahagiaanmu. Begitu juga aku,” ujarku sambil berbaring di sampingnya.

“Hei, katakan kepadaku. Kenapa kau bisa setenang ini? Apa selama ini dia tidak pernah sekalipun curiga atau bertanya?”

“Siapa?”

“Istrimu.”

“Oh, sepertinya dia terlalu sibuk mengurus setengah gajiku yang aku kirim ke rekeningnya,” jawabku malas.

Dia tertawa, “Harusnya kita saling bertemu lebih awal. Takdir Tuhan macam apa ini? Kukira aku menikahi lelaki yang kucintai dan bisa membuatku bahagia, tapi dia tak membahagiakanku dengan cintanya. Dan entah kenapa aku selalu takut, bukan kehilangan dia atau semua yang ia miliki. Tapi…”

“Mengingkari sumpah sehidup-semati? Bahwa kalian akan saling mencintai baik dikala susah maupun senang?” tanyaku dengan nada sinis.

Ia terdiam. Lagi-lagi aku melihatnya di sepasang mata sendu itu, sesuatu yang membuatku yakin. Aku yakin pasangan kami tertukar. Suaminya mampu memberinya segala kemewahan, tapi tidak dengan kebahagiaan, apalagi cinta. Ia bosan dan kesepian di tengah tumpukan uang itu. Berbeda dengan istriku yang begitu mencintai uangku. Dan sekarang aku sama sepertinya, sama-sama membenci uang.

“Kau tak perlu takut, sayang. Dia tak melaksanakan sumpahnya dengan benar, jadi kau tidak perlu menyiksa dirimu sendiri.”

Ia masih terdiam. Jemariku menyentuh helai rambutnya, aku berkata padanya pelan,

“Kita ini hanya sepasang kunang-kunang mabuk, sayangku.

Dunia terlalu gulita

Sedang redupnya cahaya yang kita bawa,

Tak mampu mengantarkan ke rumah dimana kita harusnya berada.”

Puisiku membuatnya tersenyum, “jadi kita tersesat?”

“Ya, dalam sebuah romansa.”

Ia tertawa dan terlihat bahagia. Aku merasa benar-benar dicintai. Wanita ini mencintai diriku, bukan uangku.

“Bukankah aneh jika kau malah merasa senang ketika tersesat? Tapi aku benar-benar ingin tersesat selamanya,” katanya.

“Kalau begitu, kita bangun saja rumah kita sendiri di sini. Bagaimana?” tanyaku.

“Aku sudah menceraikan istriku dua bulan yang lalu,” lanjutku.

Ia menatapku tak percaya.

“Aku ingin bersama orang yang bisa membuatku merasa bahagia, denganmu. Aku bisa menunggu. Setelah kau membereskan urusanmu dengannya, aku akan menikahimu.”

Ia masih bergeming, tak tahu harus berkata apa. Maka aku mengakhiri perbincangan malam itu dengan sebuah ciuman di bibirnya.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh CekAja.com dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s