Saptonan dan Legenda Kota Kuda

Kota kecil itu bernama Kuningan. Tak seramai Jakarta, tak sepopuler Bandung, serta tak sefenomenal Bekasi. Di atas peta pulau Jawa, ia menyempil begitu saja di ujung timur Jawa Barat, bersebelahan dengan Jawa Tengah. Tak banyak yang melewatinya, sebab untuk menyeberang dari barat ke timur atau sebaliknya, orang-orang lebih memilih mengucap permisi pada jalanan Cirebon yang terik dan khas beraroma udang.  Kuningan yang kebanyakan orang tahu hanya sebatas puncak Ciremai yang menantang para pendaki untuk berselfie. Selebihnya, paling tidak orang cuma mengangkat bahu.

Kuningan, kota yang tenang dan rindang, yang dijuluki Sang Kota Kuda…

“Kenapa dijuluki Kota Kuda? Apa di sana banyak kuda?” pertanyaan dosen saat saya sedang presentasi mata kuliah Tourismus terngiang kembali.

Waktu itu saya menggeleng. Tidak, di kota kelahiran saya tidak terdapat banyak kuda. Tapi kota saya punya legenda.

487434_103090163181927_1484864864_n
Tak banyak yang tahu tentang sosok yang berdiri dengan gagah perkasa di bundaran pusat kota itu. Sosok yang juga muncul sebagai lambang kota, terpampang di kantor-kantor pemda serta lencana baju anak sekolah. Sosok yang membuat Kuningan pantas membanggakan julukannya; Kota Kuda.

(images : Raksa Prawira)

(images : Raksa Prawira)

Namanya Windu. Ia adalah legenda yang mengantarkan Adipati Ewangga, panglima pasukan Kuningan, memenangkan pertempuran membantu kerajaan Cirebon menundukkan Galuh, serta pasukan Portugis di Sunda Kalapa. Meskipun Windu  bertubuh kecil, namun ia begitu gesit sehingga mampu mendampingi Ewangga mengalahkan Wiralodra yang menunggang gajah.

Windu yang katanya adalah peranakan campuran dari kuda Bima itu akhirnya membuat kuda perang Kuningan mempunyai reputasi yang membanggakan, bahkan hingga muncul jargon “kecil-kecil kuda Kuningan.” Jangan anggap remeh!

Namun, Windu dan kuda perang Kuningan kini hanyalah legenda. Tak ada banyak kuda di Kuningan, apalagi jejak keturunan Windu entah berada di mana muaranya.  Meski begitu, Windu dan kisah pertempurannya yang melegenda tetap hidup dalam sejarah dan budaya yang membentuk kota Kuningan saat ini. Oleh karenanya, pada hari jadi kota Kuningan yang jatuh pada tanggal 1 September selalu dilaksanakan Saptonan.

Siap bertempur! (images : antaranews)

Siap bertempur!
(images : antaranews)

Berasal dari kata saptu (Sabtu), hari ketika dulu rutin diadakan acara pertunjukkan setelah kegiatan seba raga (sidang) di sekitar istana kerajaan Kajene (Kuningan), Saptonan merupakan pagelaran atraksi ketangkasan berkuda. Para penunggang memacu kudanya sambil membawa tombak yang harus dilemparkan ke sebuah lingkaran besi berdiameter 10 cm di bawah ember air yang digantung setinggi sekitar tiga meter.

S-kuninganasridotcom

Ini bukan syuting film pendekar (images : kuninganasri.com)

 

Menjelma ksatria  (images : tundrace.com)

Menjelma ksatria
(images : tundrace.com)

Pemenangnya adalah siapapun yang berhasil melemparkan tombaknya melewati lingkaran besi tersebut tanpa menumpahkan air dari ember, serta tanpa terjatuh dari kudanya. Hal ini mau tidak mau mengingatkan kita pada sosok Adipati Ewangga yang bertempur ditemani oleh Windu. Tentu saja, karena Saptonan bukan hanya sekadar tradisi perayaan belaka, tetapi juga memiliki makna heroisme dalam bela negara, serta kekompakan pemerintah dengan rakyatnya.

Legenda Windu Sang Kuda Perang Kuningan memang mempunyai tempat di hati para warga Kuningan, termasuk saya yang meskipun sudah bertahun-tahun merantau masih saja takjub dan tersentuh tiap kali melihat gambar patungnya yang berada di jantung kota Kuningan. Ada rasa bangga sekaligus penasaran yang membuat saya ingin mencari tahu lebih banyak tentang kisahnya yang kini sulit diikuti jejaknya. Selama ini legenda tersebut hanya diwariskan secara lisan, sehingga belum ada catatan resmi mengenai riwayat Windu. Padahal legenda Windu bisa menambah kekayaan literatur fabel cerita rakyat Indonesia. Sebab menurut saya, Windu tak kalah keren dibandingkan Bucephalus, kuda Alexander Agung. Tradisi Saptonan juga tak kalah serunya dibandingkan pertunjukan Matador di Italia.

ef5f44f29ac0881b78442fe256236834Lalu saya teringat kutipan dari Toni Morisson yang berkata,
“Bila ada sebuah buku yang ingin kau baca, tapi buku itu belum dituliskan, maka kaulah yang harus menuliskannya.”
Jika saya ingin membaca cerita Windu, namun ceritanya belum dituliskan, apakah saya harus menuliskannya? Pikiran itu sempat terlintas di benak saya.

Menulis memang merupakan hobi saya dan gagasan untuk menuliskan cerita Windu memang sungguh menggiurkan. Tapi saya harus menggaris bawahi bahwa menulis bukan sekadar menulis. Legenda Windu dan tradisi Saptonan adalah sejarah dan budaya yang ikut membangun kota Kuningan beserta masyarakatnya. Ada tanggung jawab yang sangat besar di sana. Mas Gola Gong pernah berkata, sastra membawa ilmu pengetahuan lain ke dalamnya. Di dalam sebuah cerita bisa terdapat antropologi, sosiologi, filsafat, serta sejarah. Maka menulis harus menggunakan ilmu. Dan akan menjadi perjalanan panjang bagi saya untuk melaksanakan riset sampai terlahir cerita Windu sebagai karya tertulis yang utuh. Bagaimanapun, itu merupakan harga yang setimpal untuk sebuah warisan budaya dan sejarah yang murni, unik dan langka ini.

Saat ini saya masih  belajar bersama teman-teman Kelas Menulis Fiksi Aksara Salman ITB. Do'akan!

Saat ini saya masih belajar bersama teman-teman Kelas Menulis Fiksi Aksara Salman ITB. Do’akan!

Semoga suatu saat saya mampu menuliskannya. Semoga. Aamiin.

(tulisan ini terpilih sebagai juara 1 Gramedia Blogging Competition dengan tema kebudayaan  yang diselenggarakan pada bulan Februari 2016 oleh Gramedia)

Advertisements

12 thoughts on “Saptonan dan Legenda Kota Kuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s