Kucing Bernyawa Sembilan

SAM_1072

Orang-orang sangat bahagia dengan adanya sebuah pernikahan. Tapi tidak begitu halnya dengan Prawira. Baginya, pernikahan adalah sebuah pemakaman. Ia yakin, hari ini adalah hari kematiannya.

Beberapa hari yang lalu, ruang tamu di rumahnya dikosongkan. Perabotan-perabotan disingkirkan, berganti beberapa tikar yang tergelar menutupi lantai seluruh ruangan. Lalu wanita-wanita berdatangan, menyerahkan sebaskom beras pada ibunya. Para lelaki duduk melingkar di tikar, rumahnya meramai selepas isya. Para lelaki itu kebanyakan masih berpeci, baru pulang dari mushala dan menyalami ayahnya. Di kepalanya, Prawira melihat bahwa beras-beras yang terkumpul dari para tetangga adalah tanda bela sungkawa. Para lelaki berdatangan melayat, menyalami ayahnya, menepuk punggungnya sebagai rasa simpati. Di tengah ruangan, di atas tikar itu mungkin tubuhnya akan berbaring dikelilingi para lelaki berpeci dengan kitab suci di tangan mereka.

Lalu sepupu-sepupunya sibuk menyebar selembar kertas ke seluruh penjuru desa. Pada Pak Kades, Pak Camat, Pak Haji, serta petinggi-petinggi desa dan kerabat jauh. Kertas itu seperti obituari yang sering ia temukan di potongan koran pembungkus gorengan langganannya. Sebab setelah kertas itu sampai di tangan orang yang dituju, isteri-isteri mereka berbondong membawakan sebaskom beras untuk ibunya.

Kemudian pamannya memancangkan sebuah janur kuning di depan gang menuju rumahnya. Janur itu melengkung, mengangguk-angguk diterpa angin. Orang-orang makin banyak yang berdatangan semenjak janur itu terpasang. Hari ini janur itu masih berwarna kuning. Ah, kenapa harus kuning? Prawira sempat berharap janur itu akan berubah warna, mungkin menjadi merah muda, seperti warna yang disukai orang-orang yang sedang jatuh cinta. Nyatanya, janur itu tetap kuning, melambai-lambai seperti bendera kematian.

Pagi ini Prawira semakin yakin ia akan mati. Sebab beberapa karangan bunga mulai datang ke alamat rumahnya. Bunga-bunga itu dipasang melingkar-lingkar membentuk sebuah kalimat dengan indahnya. Tapi apa yang orang baca sebagai ucapan turut berbahagia, justru terbaca Prawira sebagai ucapan turut berdukacita.

Selain itu, seluruh isi rumahnya kini dipenuhi oleh aroma bunga melati. Apalagi yang ia ragukan? Bunga melati adalah bunga orang-orang mati. Ia melihat kuncup-kuncup putih itu di pojok ruangan, menjuntai di pintu, di atas tikar, di mana-mana. Mungkin kuncup-kuncup itu juga akan menjuntai di atas kerandanya. Prawira juga hanya bisa terdiam ketika ibunya mengganti tirai dan seprai dengan yang berwarna putih. Prawira tak hanya membayangkan melati dan keranda, tapi juga kain kafan.

Ia belum menikah dan akan mati, pikirnya. Pernikahan inilah yang membunuhnya. Hari ini ia tahu, ia akan terbunuh berkali-kali. Ia akan menjadi seekor kucing di pernikahan ini. Katanya kucing itu bernyawa sembilan, lalu apa ia harus terbunuh sembilan kali sebelum benar-benar mati?

Tapi tak apa. Toh konsep upacara pernikahan ini berfungsi ganda sebagai upacara pemakaman. Jika orang-orang di sekitarnya sudah begitu siap, kenapa ia tidak? Bahkan tetangga dan kerabatnya saja sudah berkumpul di rumahnya. Bunga melati sudah ada, janur sebagai pengganti bendera kuning sudah ada , undangan yang berperan seperti obituari sudah tersebar, karangan bunga sudah ada, kain kafan bisa ia pakai seprai atau tirai yang dipasang ibunya. Tak apa kalau ia mati sekarang.

Tetua desa bahkan sudah menyiapkan gentong-gentong air sejak tadi malam untuk upacara siraman. Pratiwi, adik Prawira-lah yang mengutuknya menjadi kucing. Semalam gentong-gentong air itu disiramkan ke tubuh Pratiwi. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, air itu mengalir ke sela-sela rambutnya yang tertutup untaian melati, mengalir ke tubuhnya yang hanya dibalut selembar kain kemben. Kelopak-kelopak bunga tujuh rupa ikut berjatuhan di kulit Pratiwi dari gayung air yang disiramkan ke tubuhnya. Prawira dan para tetangga menyaksikan upacara itu.

Ia melihat kulit adiknya yang kuning langsat memucat oleh dinginnya air yang bersekongkol dengan udara malam. Pratiwi, adik semata wayangnya yang gampang sekali terserang demam, duduk menggigil tak bersuara. Hanya gemeletuk giginya dan guyuran air yang terdengar, sampai ibunya meminta tetua untuk mengakhiri upacara tersebut, tak ingin putri satu-satunya jatuh sakit di hari besarnya. Entah apa rencana ibunya, tapi Prawira melihat gentong itu masih berisi air dengan kelopak bunga warna-warni mengambang di atasnya. Ia yakin, air itu masih cukup untuk memandikan satu orang lagi. Tidak, mungkin lebih cocok untuk memandikan sebuah mayat.

Prawira termangu menatap gentong berisi air di pojok halaman yang belum – mungkin lebih tepatnya tak sempat – dibereskan hingga pagi ini. Saat itu lamunannya dibuyarkan oleh suara sekumpulan orang yang berdatangan, yakni keluarga mempelai pria. Di barisan depan, berjalan seorang pria dengan setelan jas yang diapit oleh sepasang orang tua. Di belakangnya, ada beberapa ibu-ibu berkerudung dan bapak-bapak berkopiah. Ada beberapa yang membawa bingkisan, kain-kain yang dibentuk menyerupai buket bunga. Di barisan paling belakang ada sekumpulan pria memanggul dong-dang, tampak sedikit kesulitan. Dong-dang itu benar-benar menyerupai peti mati atau keranda yang diusung para pengantar jenazah. Hanya saja, dongdang biasanya berisi makanan, semur daging sapi, kambing atau ayam, opor atau sup. Sedang keranda, berisi daging manusia.

Prawira berusaha menghindari kontak mata dengan sang mempelai pria. Bersama dengan adiknya, orang itu akan menjadikannya kucing, lalu membunuhnya. Tapi bukan salahnya pula jika adiknya mendahuluinya untuk segera menikah. Prawira memang sama sekali belum siap untuk menikah, maka ia tak punya pilihan ketika adiknya memutuskan untuk ngarunghal.

Seminggu sebelumnya Pratiwi bersimpuh mencium lutut Prawira, meminta izin dan restu untuk mendahuluinya. Sebagai gantinya, Prawira boleh memberikan satu permintaan yang harus dipenuhi oleh Pratiwi. Tapi ia tak tahu harus meminta apa. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah meniadakan pernikahan ini. Dengan pola-pola yang telah ia lihat, ia menarik kesimpulan bahwa permintaan itu akan menjadi wasiat yang ditinggalkannya. Permintaan itu bisa jadi adalah permintaan terakhirnya. Siapa yang akan tega tak memenuhi permintaan orang sekarat?

Kepala Prawira mendadak terasa pusing. Ia tersentak ketika mempelai pria tahu-tahu sudah mengucapkan ijab kabul yang segera disahkan oleh para saksi. Apakah nyawa pertamanya baru saja melayang? Sebab orang-orang di penjuru ruangan menengadahkan tangannya, melafalkan do’a yang di telinganya berdengung seperti gumaman suara-suara tahlil. Ia mengira jantungnya hampir meledak karena terlalu cepat memompa oksigen ketika penghulu memperbolehkan mempelai pria mengecup kening adiknya, oleh karenanya Prawira memilih keluar ruangan dan membuka kancing teratas kemeja batiknya. Segelas air bahkan membuatnya tersedak, padahal ia merasa begitu haus.

Tak lama, kedua pengantin itu juga keluar ruangan. Orang-orang berdesakan ingin melihat dan ini membuat napas Prawira menjadi sesak, terutama ketika adik ipar barunya itu memasukkan cincin ke jari manis adiknya. Ia sempat limbung, namun lengannya segera ditarik oleh ayahnya yang menyuruhnya duduk di kursi yang berjejer di halaman. Ia duduk di kursi paling ujung, bersamaan dengan orangtuanya dan orangtua adik iparnya. Kedua pengantin bersimpuh di kaki masing-masing mertuanya terlebih dahulu. Adik iparnya perlahan semakin mendekat ke arah Prawira, saat itu ia hanya bisa terduduk kaku dengan keringat dingin mengucur di dahi dan punggungnya. Sesekali ia melirik ke pojok halaman, gentong berisi air dan bunga tujuh rupa itu masih ada di sana.

Ketika ia berhadapan dengan adik iparnya, ia berusaha sekeras mungkin untuk tersenyum. Jemarinya yang berjabatan saat itu sudah sedingin jemari mayat, senyumnya malah muncul seperti ringisan menahan sakit. Air matanya jatuh ketika adik iparnya merangkulnya, ia membisikkan sesuatu di telinganya. Mungkin meminta bimbingan serta do’a restu, tapi Prawira sedang tuli. Ia kira yang ia dengar adalah ucapan selamat tinggal. Kesadarannya kembali ketika akhirnya Pratiwi berada di hadapannya. Ia tak ingat lagi tinggal berapa nyawa yang tersisa. Kali ini ia sudah tak tahu apa akal sehatnya masih ada di sana setelah menahan sakit yang sebegitu rupa? Dengan bergetar, ia berbisik pada adiknya. Sesaat adiknya tertegun, menatapnya lekat. Tapi saat melihat air mata jatuh dari mata kakaknya, Pratiwi hanya bisa mengangguk.

Setelah sungkeman selesai, kini ada payung emas yang memayungi mereka berdua dan beberapa kerabat melemparkan butiran beras, koin dan kuncup-kuncup melati ke arah mereka. Prawira beranjak sambil mengusap matanya, menghindari lemparan butiran beras dan melati yang ikut mendarat di rambutnya yang tersisir rapi. Ini adalah prosesi pemakaman, detik-detik saat raganya dikebumikan dan orang-orang melemparkan bunga ke lahatnya. Ia sudah tak sanggup lagi, orang-orang sibuk berdesakan memungut koin. Sambil terhuyung dan terbatuk-batuk, ia berusaha menjauhi kerumunan itu. Tapi lagi-lagi lengannya ditarik, kini oleh ibunya yang mengingatkan untuk bersiap menjadi seekor kucing.

abstract_cat_with_red_eyes_1600x1200Sudah merupakan adat di daerah sini bagi kakak laki-laki yang dirunghal untuk menjadi Mèmèongan, bertingkah seperti kucing saat adik dan pasangannya melakukan huap lingkang dan pabetot bakakak. Ia menunggu adiknya selesai membakar harupat dan memecah kendi serta telur. Ia tersenyum getir, membayangkan kendi dan telur itu seperti sesajen yang akan di tempatkan di nisannya pada malam kematiannya. Ketika keduanya saling menyuapi nasi, ia bersiap di balik jendela. Ia benar-benar jadi kucing, mengincar daging ayam yang berada di tengah-tengah mereka. Tiba-tiba ia kembali tersentak, segalanya semakin jelas. Beberapa detik lagi, ia harus merebut daging ayam itu dari mereka. Seperti kucing yang menerobos masuk dapur, mencuri lauk orang. Seperti itukah ia harus merebut kebahagiaan adiknya?

Ia kembali limbung, namun orang di belakangnya segera memberi aba-aba agar ia segera menerobos masuk. Dengan langkah agak terseok, ia berlari dan mencoba merenggut daging ayam yang sedang pasangan itu pegang. Adiknya tertawa-tawa, mencoba mempertahankan bagian paha dan sayap ayam yang ia genggam erat. Begitu pula suaminya, yang juga tertawa tak mau melepaskan ayam bagiannya. Kepala Prawira terasa berputar. Cepat-cepat ia puntir kepala ayam itu, mematahkan bagian rongga dadanya yang berlumuran kecap. Segera ia berlari ke arah halaman belakang, sementara orang-orang bersorak riang. Ia terus berlari, ke arah kebun, menerobos barisan jemuran tetangga. Ia terengah, dadanya semakin sesak dan sakit. Ia terhenyak dengan leher ayam yang ada di genggamannya, seketika ia lemparkan ke semak-semak. Sepertinya tinggal satu nyawa lagi tersisa.

***

Sepasang pengantin baru itu berbaring di ranjang. Tubuh mereka begitu lelah setelah melaksanakan serangkaian prosesi pernikahan sedari pagi. Lelaki itu mengusap rambut istrinya, masih tercium aroma melati yang tertinggal dari sanggul yang tadi dipakainya.
“Ngomong-ngomong…kakakmu kemana? Kok sejak tadi siang tidak kelihatan?” pertanyaan lelaki itu tak dijawab istrinya yang berbaring memunggunginya, tampak kelelahan. Ia pun lalu ikut tertidur pulas.
Malam itu Pratiwi memaksakan matanya untuk terpejam dan berpura-pura tak mendengar tangis dan teriakan yang memanggil nama suaminya dari arah kebun di belakang rumahnya. Seperti raungan seekor kucing yang sekarat.

***

Bandung, 13 juni 2015

Keterangan :

  • Kemben : kain penutup tubuh wanita yang disarungkan dari dada
    hingga betis, biasanya berupa kain batik.
  • Dong-dang : kotak kayu berbentuk segi empat dengan usungan yang
    digunakan untuk mengantarkan makanan kepada keluarga
    besan saat terdapat acara pernikahan di masyarakat sunda
  • Ngarunghal : menikah mendahului kakak
  • Mèmèongan : (biasa disebut juga Uucingan), tradisi dalam pernikahan
    adat sunda, sang kakak (yang dirunghal) berpura-pura
    menjadi kucing dan merebut daging ayam dari pengantin.
  • Huap lingkang : prosesi yang terdapat dalam upacara pernikahan adat sunda, dimulai dengan pasangan mempelai disuapi kedua orang tua, dilanjutkan dengan kedua mempelai saling menyuapi dengan bulatan nasi ketan kuning
  • Pabetot bakakak : prosesi yang terdapat dalam upacara pernikahan
    adat sunda, dimana kedua mempelai berhadapan sambil berebut daging ayam utuh
  • Harupat : lidi yang berasal dari tulang daun aren, biasa dibakar
    seperti hio

Cerpen ini terdapat dalam buku “Orang-orang dalam Menggelar Upacara”, antologi 20 cerpen terbaik pada Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia 2015 yang diterbitkan oleh Asas UPI.

Advertisements

7 thoughts on “Kucing Bernyawa Sembilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s