Review: Surga Sungsang: Buku Cerita

Surga Sungsang: Buku Cerita
Surga Sungsang: Buku Cerita by Triyanto Triwikromo

My rating: 3 of 5 stars

Membaca buku ini memang membuat pikiran sungsang. Unsur puisi, legenda, spiritual, sejarah, essai dan realitas sosial berkumpul, berembuk dalam sebuah fiksi yang ajaib dan “tidak normal”. Tapi memang sampai kapan kita mau bermanja-manja dengan bacaan yang “normal” sementara dunia saja sudah lama pudar kewarasannya? Memahami kenyataan yang terjadi di sosial masyarakat kita, tak akan berhasil jika kita tidak mau ikut mengintip ke bagian gelap itu. Intrik dan konflik yang disajikan dalam cerita-cerita di buku ini sejatinya adalah refleksi, hanya saja dibuat semenakjubkan mungkin. Maka hal itulah yang mungkin membuat pusing kebanyakan pembaca awam (termasuk saya sendiri), sebab sang penulis buku ini imajinasinya bak tanaman rambat yang lupa dibabat. Liar! Juga bikin lieur!

Sekumpulan cerita yang tersusun di sini mempunyai satu gagasan yang sama, menjadikannya tampak seperti novel yang diiris menjadi bagian-bagian kecil, mempertemukan tokoh-tokohnya melalui untaian benang merah yang sekaligus menarik mereka ke dalam satu klimaks : nasib di ujung tanduk sebuah tanjung. Sebagian nama tokohnya mau tak mau mengingatkan kita akan peristiwa atau sesuatu yang akan memunculkan sebuah persepsi. Menurut saya hal itu adalah wajar, karena dalam diri tiap penulis tentu akan ada hasrat untuk membisikkan suatu mantra yang akan mempekerjakan nalar pembacanya, setidaknya untuk meninjau kembali fakta dan sejarah yang beterbangan seperti lebah dan lalat; bisa jadi manis, bisa jadi busuk. Selain itu, keresahan pembaca akan sulitnya memahami karya ajaib ini tampaknya sudah dipertimbangkan oleh penulisnya sendiri, sehingga muncul dalam bagian akhir sosok pseudonim nyentrik yang melangkah maju menjadi juru bicara sang penulis. Seperti mengenai jalan cerita yang tidak lazim, yang juga dikhawatirkan oleh sang editor, dijawab dengan cerdas dan gamblang oleh Mohamad Isa Daud, sang pseudonim:
“Aku khawatir para pembaca akan bingung karena kau tidak bercerita secara linear.”
“Apakah peristiwa kehidupan ini linear?” Mohamad Isa Daud ganti menyerang.
(hal.134)

Dari gaya tuturan, riwayat penulisan dan kiprahnya di bidang sastra, tentu saya pantas untuk sungkem terhadap penulis buku ini. Akan tetapi ada satu hal yang mengusik dalam buku ini, yakni terlampau banyaknya referensi literatur pada bagian akhir yang membuatnya tampak seperti karya tulis seorang mahasiswa. Tentu saja saya sangat mengapresiasi niat agung penulis untuk mencekoki pembaca dengan bacaan-bacaan intens itu. Namun menurut saya penulis terlalu memberondong, sehingga niat tulusnya seakan tertutupi oleh kesan pamer betapa kayanya referensi bacaan beliau, serta aura fiktif cantik nan misterius di bagian awal seolah ditinggal lesap begitu saja.

Satu pesan terakhir : membaca buku ini harus berani untuk pusing. Kalau tidak mau pusing, baca majalah Bobo saja.

View all my reviews

Advertisements

One thought on “Review: Surga Sungsang: Buku Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s