Mengintip Dunia Sukab Bersama SGA

csng03hukaaxh1s-jpg-largeBagi yang memperhatikan dunia sastra Indonesia, nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) tentu sudah tidak asing terdengar. Tulisan-tulisan beliau sudah sangat sering berseliweran di koran-koran nasional. Cerpen dan essaynya sangat khas dengan tokoh bernama Sukab.ย  Dalam rangkaian acara Pekan Literasi Kebangsaan yang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, tepatnya pada hari Selasa, 06 Desember 2016, SGA berbagi kisah tentang kumpulan cerpennya dari periode tahun (1985-2014) yang berjudul Dunia Sukab.

Penulis yang juga berprofesi sebagai jurnalis dan dosen ini meski mempunyai penampilan yang berkharisma serta beraura “sangar”, ternyata sangat santai dan humoris. Sesi bincang buku pada siang itu berjalan dengan suasana yang tak kaku, seperti sedang mengobrol dengan teman atau curhat antara mahasiswa dengan dosen saja. Para peserta yang memenuhi ruangan juga aktif bertanya perihal dunia kepenulisan kepada sang maestro cerpen tersebut. Berikut ini sesi bincang buku Dunia Sukab yang saya rangkum seadanya :

Selasa, 06 Desember 2016 pukul 13.20 WIB

Dipandu oleh kang Tobing, peserta sudah mulai dipersilakan untuk memasuki ruangan. Saat itu SGA juga sudah hadir, namun beliau tak langsung duduk di kursi di atas panggung yang sudah disediakan. Beliau malah duduk di kursi untuk peserta di barisan paling depan sambil menunggu peserta lain memenuhi tempat duduk di belakang. Seorang peserta di depan saya sempat bertanya apa boleh minta foto bareng plus tandatangan dan beliau dengan santainya menolak, “nanti saja deh, pas udah selesai acara ya?”. Tapi tetap saja ibu itu curi-curi selfie karena duduk disebelahnya haha.

2016-12-06-13-18-18Beberapa menit kemudian acara resmi dimulai. Lucunya dari pihak penerbit Nourabooks ternyata lupa membawa sampel buku Dunia Sukab yang akan dirilis tersebut, sehingga membuat kang Tobing selaku moderator acara bingung. Justru yang tersedia di meja panggung adalah buku Dunia Sukab cetakan lama dari penerbit lain serta beberapa buku SGA lainnya, sehingga sang narasumber pun ikut tertawa dan geleng-geleng kepala. Tapi dimulai dari sana, acara sudah berlangsung dengan suasana yang hangat. Setelah diberikan prakata dari moderator, SGA mulai memperkenalkan Dunia Sukab beserta kisah-kisah didalamnya.

Pertama-tama tentu saja mengenalkan siapa sebenarnya Sukab yang namanya tertera menjadi judul dan selalu ada dalam cerpen-cerpennya. Tutur beliau, Sukab bukan hanya satu orang, tapi merupakan representasi rakyat. Sukab bisa menjadi kuli bangunan, pengangguran, tukang mabuk, tetangga, atau bahkan diri kita sendiri. Tokoh Sukab juga kadang mati. Namun alasan utamanya adalah beliau rupanya terlalu malas untuk mencari nama lain untuk tiap tokoh cerpennya, hahaha.

SGA mengaku banyak orang yang bertanya padanya bagaimana bisa menulis cerita-cerita seperti yang terdapat dalam Dunia Sukab? Hal apa yang menginsipirasinya menuliskan hal-hal itu? Menurutnya pada masa orde baru (yang merupakan waktu ketika beliau menulis sebagian besar cerpennya), penulis hanya dihadapkan kepada dua pilihan :
– menulis dengan gaya yang “nyastra”
atau
– menulis kritik.

Jika kita menulis tentang kritik sosial, kadang kita tak perlu begitu memperhatikan bentuk (estetika). Yang penting apakah kritik tersebut menohok atau tidak, dapat tersampaikan atau tidak. Namun beliau juga menambahkan bahwa estetika tidak seperti bursa yang bisa kita pilih mau seperti apa. Contohnya dalam karyanya berjudul “Saksi Mata”, beliau sebagai wartawan pada waktu itu berusaha meloloskan berita mengenai tragedi (Santa Cruz) di Dili yang terlarang untuk dilaporkan, sehingga beliau menuliskannya dalam bentuk sastra. Kang Tobing berpendapat, mungkin itulah yang membuat beliau begitu khas dengan kutipan pernyataannya yang berbunyi,

“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”

SGA tersenyum sambil menegaskan, “pokoknya siapapun yang menginginkan berita tersebut hilang, saya akan membuatnya abadi.”

Oleh karena itulah menurutnya bentuk-bentuk tulisannya menjadi (apa yang orang bilang “khas”) seperti itu. Banyak terdapat improvisasi karena beliau mengaku banyak memplesetkan istilah-istilah yang rentan (terutama dalam dunia politik), namun toh pada akhirnya pembaca juga tahu tulisan tersebut membicarakan tentang apa. Maka dari itu sekumpulan cerpen dalam Dunia Sukab mempunyai dua poin yang disebutkan sebelumnya, kritik dalam bentuk yang nyastra.

Masuk kepada sesi tanya jawab, berikut beberapa pertanyaan dari peserta (P) kepada SGA.

P : “Salah satu cerpen dalam Dunia Sukab berjudul Carmina Burana, kenapa Anda memilih judul tersebut? Apa yang menginspirasi Anda menuliskannya?”
SGA : “Carmina Burana adalah sebuah komposisi lagu dari kumpulan puisi klasik abad pertengahan untuk pengiring tarian kontemporer. Kalian harus lihat videonya, banyak di internet. Karena saya sudah berumur segini, sementara gerakan tarian tersebut banyak yang serong sana, serong sini, loncat sana, loncat sini, jadi lebih baik saya bikin dalam bentuk cerpen. (Kalau sudah baca cerpennya) pasti tahulah itu sebuah metafor tentang kejadian apa, hehe.”

Nih, kalau mau tahu Carmina Burana dan tariannya tonton aja di sini:

P : “Saya terkesan dengan cerita berjudul Je T’aime. Ini berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya. Kok bisa juga membuat cerita yang temanya sederhana, tapi menarik? Apa rahasianya?”
SGA : “Loh, bukannya itu pekerjaan penulis? Itu sudah jelas. Dulu saya juga sering kok mengirimkan cerpen ke media, lalu ada yang ditolak hanya karena sebaris kalimat saja. Padahal menurut saya cerpen itu bagus, hahaha. Cerpen tersebut dikembalikan dengan pengantar dari editor gara-gara menurutnya terlalu sadis dan berbau timor-timur. Memang, ada kalanya kita menulis tergantung dengan yang meminta. Kalau mau dikirim ke koran Kompas, misalnya, tentu kita harus menulis tentang sebuah tema yang memikirkan rakyat. Kalau untuk tabloid Nova, yang cocok ya tema-tema seputar rumah tangga, perempuan, cinta, dan sebagainya. Menyesuaikan saja.”

P : “Setelah menulis cerpen, essay dan drama, apakah ada kemungkinan Anda akan menulis dalam ruang/media lain?”
SGA : “Saya tidak bisa bicara tentang itu. Karena sebelumnya sudah pernah dilakukan seperti Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi yang dipasarkan secara besar-besaran, tapi ternyata sama saja seperti sinetron lainnya. Kecuali saya sendiri yang memproduksi, tapi saya tidak punya waktu saat ini. Sebenarnya sudah banyak tulisan-tulisan yang dialihkan menjadi bentuk drama, opera, dan sebagainya.

P : Bagaimana Anda bisa menciptakan dunia imajinasi yang komplit dan konkrit?
SGA : Setiap tokoh mempunyai citra diri, contohnya pada cerita pewayangan yang panjang sekali serinya itu (sehingga muncul seri-seri dengan penulis yang berbeda). Tapi jika ditulis oleh pengarang yang berbeda, maka akan ada banyak perspektif, detail dan versi. Lalu kenapa saya melakukannya sendiri? Saya punya insting dan obsesi untuk mengkongkritkan hal-hal imajiner yang saya tulis tersebut. Supaya saya bisa ngibulin kalian, hahaha.” XD

Kemudian SGA pun mencoba membagi sebuah pengalamannya yang berkesan:

“Cerpen saya yang berjudul Sepotong Senja untuk Pacarkuย  pernah ada yang menghapus dan mengganti nama-nama tokohnya, lalu diikutkan lomba dan menang. Beberapa rekan saya yang tahu bahwa itu adalah cerpen saya, pada menghubungi saya dan bertanya, ‘bagaimana ini Mas? Mau diapakan orang ini?‘ Lah, mau diapakan bagaimana? Orang cerpennya menang, kan bagus itu. Kalau kalah, baru saya malu!” XD

Dan seisi ruangan makin riuh dengan tawa serta tepuk tangan.

Sayangnya, durasi acara sudah hampir habis dan SGA sendiri harus segera berangkat menghadiri acara lain. Akan tetapi, beliau tentu saja memberi kesempatan untuk sesi tandatangan.

Selama mengantri tandatangan, ternyata masih ada saja hal-hal menarik dan konyol. Ada beberapa peserta yang membawa semua koleksi buku karya SGA-nya, ada pula yang ketahuan baru beli di stand sebelah ruang diskusi. Semua itu SGA komentari layaknya tetangga sebelah yang sudah akrab, hahaha.

“Loh, bawa bukunya kok yang ini? Yang Dunia Sukab-nya gak punya ya?”

“Wah, ini masih baru ya? Masih rapi banget dan ada cap harganya, nih.”

“Ini buku tahun berapa? Kasihan banget udah kena jejak banjir begini.”

“Wow, ini koleksimu semua? Bagus, bagus. Keren. Sip! Saya tandatangani semua, hahaha!”

Tak disangka ternyata beliau ini humoris sekali. ๐Ÿ˜€


Nah, sekian dulu laporan bincang-bincangnya, karena selepas sesi tandatangan para pesertanya juga langsung bubar. Dan saya pun bergegas pulang karena sedang musim hujan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Hidup literasi Indonesia!

Advertisements

3 thoughts on “Mengintip Dunia Sukab Bersama SGA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s