Review: Perpustakaan Kelamin – Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

Perpustakaan Kelamin: Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Perpustakaan Kelamin: Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan by Sanghyang Mughni Pancaniti

My rating: 1 of 5 stars

.

“Ketika Tuhan meniupkan ruh padamu,
Dia simpan pada tiga tempat:
Akalmu, hatimu dan kelaminmu.
Tinggal kau yang putuskan,
Mana yang akan kau utamakan…?”
-Emha Ainun Nadjib-

Kelamin dan perpustakaan, nafsu dan akal pemikiran, sungguh dua hal yang bertolak belakang. Kelamin yang berada dalam lingkup sex, tidak dipungkiri mempunyai citra eksklusif yang “kotor”. Sedangkan perpustakaan dan buku-buku merupakan ilmu pengetahuan, sebuah simbol peradaban suci nan agung, bahkan kalau pun perpustakaan tersebut berisi segala buku tentang sex, ia tetaplah pengetahuan. Paradoks memang.

Itulah kenapa saya tertarik dengan premis yang ditawarkan oleh buku ini. Perpustakaan dan kelamin dalam pertaruhan. Menarik sekali bukan, membahas kelamin yang “kotor” dan ilmu pengetahuan yang “suci” sekaligus? Sepenting apa kelamin dibandingkan ilmu pengetahuan? Relakah kita mengorbankan kelamin demi ilmu pengetahuan? Kelamin yang pembahasannya selalu dianggap tabu dan menjijikan, rupanya tak terbayangkan juga jika kita sampai kehilangan keberadaannya. Tetapi demi kelamin, relakah pula untuk kita mengorbankan ilmu pengetahuan?

Itulah dilema yang dihadapi oleh Hariang, pemuda pintar tak bersekolah yang dibesarkan oleh ibunya. Bagi Hariang, ibunya adalah segalanya. Ibunya adalah teman, sekaligus guru. Kepintaran yang ia miliki tentu adalah berkat yang diturunkan dari upaya ibunya yang mendidiknya sedemikian rupa, dengan buku-buku. Sampai suatu ketika, perpustakaan yang ibunya dirikan serta telah belasan tahun ia rawat sendiri terbakar. Hal ini sangat mengguncang jiwa ibu Hariang dan membuatnya gila. Hariang yang hampir putus asa dengan keadaan ibunya berpikir bahwa tak ada jalan lain selain membangun kembali perpustakaan tersebut. Tapi dari mana ia dapatkan uang untuk membeli ratusan buku-buku langka itu? Ia bisa bekerja serabutan, tapi itu pasti membutuhkan waktu yang lama, sementara ibunya semakin terlihat mengenaskan. Satu jalan dibukakan di hadapannya: ia bisa mendapatkan uang milyaran dalam waktu singkat asalkan ia rela medonorkan kelaminnya. Tentu ia rela melakukan apa saja demi ibunya, tetapi di sisi lain ada Drupadi, kekasih yang sedang ia gilai dan hendak ia nikahi.

Buku yang terbungkus tampilan novel ini memuat banyak diskusi, pemikiran dan pertentangan batin. Terlalu banyak malah. Memang, seperti tipikal novel bertema buku dan perpustakaan lainnya, tentu saja kita harus siap disuguhi oleh nukilan-nukilan dari buku lain. Ada banyak sekali buku bagus di luar sana dan tentulah penulis yang menulis buku tentang perpustakaan pasti tahu banyak buku-buku keren nan filosofis. Inilah yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Penulisnya terlalu semangat untuk memamerkan khazanah pengetahuannya tentang buku-buku. Mungkin niatnya sangat baik, ingin membaginya kepada pembaca. Akan tetapi kesannya justru seperti “menjejali” pembaca dengan diskusi-diskusi yang sebenarnya berada jauh di luar alur. Tak apalah jika berlaku sebagai intermezzo, namun hal ini rupanya justru hampir membunuh alur. Mungkin buku ini lebih cocok bagi penggemar non fiksi, tapi sekali lagi sejak awal pembaca sudah diiming-imingi cerita fiksi.

Baca juga review: Lelaki Harimau by Eka Kurniawan

Inti cerita baru bisa kita masuki di halaman ke lima puluh, itu pun setelahnya kembali dibuyarkan oleh selipan diskusi-diskusi filosofis yang lebih panjang daripada tema cerita yang hendak dibawakan. Dari total 229 halaman, mungkin cuma 20% yang merupakan alur. Intinya terlalu banyak hal lain yang dibicarakan yang tak ada hubungannya dengan alur. Kalau kata orang sunda, istilahnya adalah “Ngayahyay…” alias menjalar kemana-mana. Hal ini menjadi penilaian penting, karena pada akhirnya buku ini seperti memiliki krisis identitas. Apakah ini novel? Atau essay? Atau artikel kutipan buku-buku?

Gagasan-gagasan dalam buku ini sebenarnya amatlah menarik, terlepas itu merupakan tema utama atau selipan belaka. Mengenai seks dalam tema utama, misalnya, memang akan menjadi topik yang takkan habis untuk dibahas. Sebuah ironi yang terdapat dalam masyarakat kita yang saat ini tiba-tiba jadi cenderung sok konservatif, bahwa sekali hal tabu selamanya adalah tabu dan terlarang untuk diekspos atau sekadar dibicarakan. Bahkan dalam urusan pendidikan, seks masih terdapat dalam daftar pingitan. Padahal, bukankah tanpa seks maka takkan ada peradaban? Dan bukankah seks pula yang bisa meruntuhkan peradaban itu sendiri?

Baca juga review: Black Beauty by Anna Sewell

Selain itu terdapat pula diskusi-diskusi mengenai paradoks pendidikan, pelarangan buku, serta pemikiran para cendekiawan dan sufi. Lengkaplah sudah pertaruhan antara ilmu pengetahuan dan kelamin ini. Hanya saja penempatannya kurang halus dan tak berbaur dengan cerita, sehingga muncul kesaruan akan gagasan utama yang tampak tergilas atau tertutupi oleh nukilan-nukilan hal tersebut. Sungguh, jika benar ini adalah novel, maka dialog-dialognya sangat kurang padu. Keberlangsungan plotnya juga masih loncat ke sana ke mari. Eksekusi ending apalagi, tampak amat terburu-buru. Jika ini merupakan buku kumpulan essay, maka mungkin yang harus diperbaiki adalah sortiran tema yang “jelas” yang akan disuguhkan pada pembaca.

Menurut catatan di akhir buku, penulisnya berniat melanjutkan cerita Hariang ini. Saya agak sedikit sangsi, namun semoga saja ada perbaikan dari segi tata tulisnya. Sehingga tak semengecewakan buku yang ini. Karena sayang sekali jika pengetahuan tidak bisa dinikmati.

View all my reviews

Advertisements

2 thoughts on “Review: Perpustakaan Kelamin – Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

    • Dikuliahi banget mah enggak, Kang. Tapi kayak kita dipaksa nyimak debat gitu, terlalu banyak adegan debat panjang di situ, jadi ceritanya sendiri serasa gak “dalem”, gak ada nyawanya. đŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s