Tak Ada Sastra Hari Ini

source: pexels.com

Sepertinya hari ini adem ayem saja. Lini masa dipenuhi postingan-postingan keseharian seperti biasa. Tak terlihat gambar-gambar bak kartu ucapan sebagai bentuk peringatan atau perayaan apa pun. Tak ada pula kutipan-kutipan buku atau penulis.

Saya dengar sejak 2013 lalu pemerintah telah resmi menetapkan tanggal 3 Juli  sebagai Hari Sastra Nasional. Penetapan ini berdasarkan tanggal lahir Abdul Moeis,  penulis novel Salah Asuhan. Tapi  saya dengar pula banyak polemik mengenai ini. Misalnya penolakan dari pihak Boemipoetra yang lebih memilih untuk menetapkan tanggal lahir Pramoedya untuk memperingati Hari Sastra. Ada pula yang merayakannya di bulan April, pada tanggal lahir Chairil Anwar (yang notabene diperingati sebagai Hari Puisi Nasional). Tentu saja, siapa yang tak kenal penyair “Aku” itu?

Bagi saya, tak jadi masalah jika kita merayakan hari sastra di tanggal-tanggal mana pun. Akan tetapi agak aneh melihat pemerintahnya sendiri tampak sepi, tak merayakan atau sekadar memperingati hari yang ditetapkannya ini. Saya pikir penetapan hari sastra ini dibatalkan. Mungkinkah? Apa karena mereka lupa alias tak ingat saja? Lantas, apakah fungsinya sebuah peringatan?

Saya iseng menelusuri timeline Twitter, Instagram dan Facebook. Namun postingan mengenai Hari Sastra Nasional atau Hari Sastra Indonesia pada tanggal 3 Juli sangat jarang ditemukan. Jika pun ada, mereka merupakan postingan tahun-tahun lalu, itu pun hanya segelintir. Baiklah, sepertinya memang tak ada yang merayakan kali ini. Atau memang benar dibatalkan dan maklumat sastra itu tak berlaku lagi.

Akan tetapi beberapa hari kemudian, tanggal 7 Juli tepatnya (setelah itu saya menyunting tulisan ini kembali), saya mendapati akun Twitter Noura Publishing memosting tentang Hari Sastra ini.

Oke, jadi bagaimana? Hari Sastra itu masih adakah? Namun sekali lagi, akun pemerintah masih belum ada yang menyinggung hal ini. Saya sedikit berharap setidaknya ada latepost seperti akun Noura, tapi sepertinya hal itu tak akan terjadi. Saya kecewa, maklumat sastra itu seolah hanya menjadi “hore-hore” belaka pada saat mereka menetapkannya. Akan tetapi setelah itu ditinggalkan begitu saja, lebih buruknya, dilupakan begitu saja. Sekali lagi, apakah fungsi sebuah peringatan?

Sebenarnya hari sastra di tanggal lain pun bagi saya masih terasa eksklusif dibandingkan peringatan hari-hari lainnya. Ya, mungkin karena sastra juga eksklusif. Tak semua orang mau membaca dan menikmati. Berbeda dengan bulan Mei lalu. Peringatan Hari Buku Nasional marak dengan acara festival membaca, diskon toko buku, juga postingan-postingan tentang buku. Perorangan, komunitas, penerbit, semua orang tampak merayakan. Ya, karena pasti semua orang setidaknya pernah membaca satu buku. Buku apa saja, yang penting buku.

Lalu, bagaimana dengan sastra?

Mungkin, sastra memang bukan untuk dirayakan. Ia harus diamalkan. Sebab, bukankah sastra sendiri berasal dari manusia dan kesehariannya? Begitu dekat, begitu akrab. Ia harus diresapi, disadari.  Oleh karenanya, mungkin ia takkan dilupakan dan tak perlu ada peringatan-peringatan. Setiap hari, ada sastra yang bisa kita temukan di sekitar kita.

Semoga saja sebetulnya ada, hanya saja tak dirayakan serta dipublikasikan. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s