Review : The Catcher in The Rye by J.D. Salinger

31448729The Catcher in the Rye by J.D. Salinger

My rating: 2 of 5 stars

“Aku selalu membayangkan ada begitu banyak anak kecil bermain-main di sebuah ladang gandum yang luas. Ribuan anak kecil dan tak satu pun orang – maksudku orang dewasa – ada di sekitar tempat itu. Kecuali aku sendiri. Dan aku berdiri di pinggir sebuah tebing yang mengerikan. Yang harus kulakukan adalah menangkap semua anak begitu mereka mulai menghambur ke pinggir tebing – maksudku kalau mereka berlarian dan tidak memperhatikan arah. Lalu aku akan muncul entah dari mana dan menangkap mereka. Itu yang akan kulakukan sepanjang hari. Aku hanya ingin jadi seorang tukang tangkap, si penangkap, sang penyelamat di ladang gandum. Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi itu satu-satunya hal yang ingin aku lakukan. Aku tahu ini gila.” (hal. 242)

Buku yang masuk ke dalam daftar 100 Best Novel of All Time ini menceritakan keseharian seorang remaja bernama Holden Caulfield. Tak seperti tokoh utama dalam kebanyakan novel remaja, Holden bukanlah seorang anak yang memiliki kekuatan atau terpilih untuk melakukan suatu misi yang akan mengubah dunia atau hidup orang-orang di sekitarnya. Yah, Holden adalah seorang anak yang rebelious, kritis, serta merasa tak cocok dengan orang-orang di sekitarnya. Dan buku ini hanya menceritakan tentang keluh kesah Holden dalam menjalani hari-harinya di sekolah, sampai ia dikeluarkan tanpa memberitahu kedua orangtuanya. Bisa dikatakan ini semacam Diary of A Wimpy Kid versi klasik. Bisa jadi memang novel inilah yang menginspirasi serial diari si bocah tengil itu (bisa dicek pada rekaman wawancara Jeff Kinney berikut: http://www.bbc.co.uk/programmes/p02ndbws)

Lantas, apa yang menjadikan The Catcher in The Rye masuk ke dalam kategori buku terbaik dan berpengaruh sepanjang masa?

IMG20171217142402

Karya yang kontras pada jamannya

Pertama-tama dan yang utama, sebuah karya sastra secara alami muncul sebagai representasi masa serta potret sosial dan budaya sebuah masyarakat. Sastra adalah mimesis. Maka membaca karya yang berlatar di Amerika tahun 1949 dan pertama kali terbit pada tahun 1951, di tahun 2017 tentu tak akan cukup untuk menilai apakah novel ini memang layak dikatakan sebagai buku terbaik atau tidak. Kita perlu memahami pula bagaimana situasi di masa cerita ini berlatar untuk memahami konteks dan pesan sang penulis, serta bagaimana pengaruhnya terhadap para pembaca di masa itu.

Saat itu adalah masa pasca PD II, yang tentu saja semua orang sedang mengalami masa-masa yang tak mudah, harus kembali berbenah, menyesuaikan diri, tapi juga sekaligus memiliki tekanan untuk berkompetisi. Oleh karena itu bukan tidak mungkin jika orang-orang berusaha bekerja keras, hidup dengan berusaha patuh pada aturan-aturan yang ada. Dan di antara itu semua, tetiba muncul seorang anak yang bersikap masa bodoh, mempertanyakan norma-norma sosial yang ada, dan beropini seenak jidatnya sendiri. Pada masa itu menyuarakan pendapat tentu saja belum sebebas sekarang, belum lagi dengan gaya bahasa sarkastik yang dulu masih terbilang kurang sopan. Maka sebuah buku yang menghadirkan karakter pembangkang yang terus-terusan ngedumel, bahkan menganggap bodoh masyarakat umum dengan gaya bertutur verbal atau konversasional merupakan sebuah gebrakan. Bisa jadi ini adalah prediksi atas perubahan besar yang akan terjadi di masyarakat, sebuah revolusi dan penyegaran.

Meski begitu, keberanian yang dimunculkan novel ini sempat membuatnya masuk ke dalam daftar buku yang dilarang beredar di Amerika untuk beberapa saat. Setelah benar-benar menjadi negara yang bebas, novel ini justru menjadi salah satu daftar buku bacaan wajib bagi anak sekolah tingkat dasar. Para siswa tak hanya disuruh membaca, namun juga mendiskusikannya di dalam kelas sebagai bagian dari pelajaran moral education. Hal itu adalah sebuah pencapaian yang besar bagi karya yang dianggap membangkang dan memberi pengaruh yang buruk bagi anak-anak pada masanya.

1-horz-vert

Diambil dari Abnormal Summit Ep. 41 – Conscience & Ethics (sub tema diskusi: moral education)

 

Kedua, ini adalah masalah relasi pembaca terhadap isi cerita. Pada hal ini adalah tema pubertas. Semua orang pasti mengalami hal itu, namun mungkin tak semua orang mengalami tekanan dan kelabilan seperti Holden. Jika dilihat dari karakternya, Holden memiliki kesulitan dalam bersosial, sehingga menyebabkan dirinya membenci sekolah dan kebanyakan teman-temannya. Namun di sisi lain, Holden memiliki sensitivitas terhadap orang atau situasi tertentu. Holden cenderung introvert dan hal-hal tersebut membuatnya frustasi. Proses tumbuh menjadi dewasa tidaklah mudah baginya, ia banyak merasa kecewa. Oleh karenanya ia selalu membayangkan dirinya menjadi penangkap anak-anak di ladang gandum, tak ingin mereka cepat tumbuh dewasa dan harus mengalami hal yang sama dengan dirinya. Bagi orang yang bisa merasakan hal yang sama dengan Holden tentu akan memahami tiap perkataan dan perbuatannya sepanjang cerita. Namun bagi yang tidak, Holden tak ubahnya seorang bocah yang pengecut dan menyebalkan. Dalam hal ini, penilaian murni dikembalikan pada masing-masing pembaca.

Bagi saya sendiri yang sedikit-banyak dapat memahami Holden, novel ini cukup menarik dan menghibur. Ada bagian-bagian di mana saya mengangguk mafhum atau tersenyum karena apa yang dituturkan Holden persis betul dengan apa yang selalu saya pikirkan. Menilai isi ceritanya sendiri, saya rasa saya cukup menyukainya. Terlebih karena seorang introvert sering kali kesulitan untuk mengekspresikan perasaannya, saya percaya jalan terbaik adalah dengan menuliskannya. Setidaknya Salinger memberikan inspirasi itu melalui karakter Holden. Sikapnya yang melawan aturan dan penolakannya terhadap norma masyarakat, bisa dilihat sebagai motivasi untuk berani bertindak dan melawan arus serta rasa takut. Mungkin ini pula yang menjadikannya inspirasi bagi para pembunuh tokoh-tokoh terkenal sebagaimana yang tercantum dalam deskripsi buku.

Baca juga Review : Deep Space Blue Testimony dan 17 Cerita Lain

Akan tetapi, buku yang saya ulas ini merupakan versi terjemahan. Saya pun menyempatkan membaca versi aslinya dan ada beberapa hal yang membuat elemen ceritanya terasa tak sekuat versi yang asli. Memang, rasa buku terjemahan pasti tak akan persis sama dengan yang original. Namun saya rasa kekurangan-kekurangan itu masih bisa diperbaiki, seperti kalimat-kalimat yang masih diterjemahkan secara gramatis, alih-alih idiomatis. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar, karena kekhasan  dalam karya Salinger ini adalah gaya tuturan yang akrab dan merupakan bahasa keseharian, sehingga terasa dekat dan ringan. Selain itu, ada beberapa kata dan/atau frasa yang masih perlu dikembangkan dalam penerjemahan kontekstual. Hal ini terkait dengan budaya dan karakter yang ditampilkan. Agak terasa aneh jika karakter yang ditampilkan adalah anak-anak, namun bahasa yang dikatakannya masih terkesan formal, sehingga terasa kaku. Karena terjemahan yang saya baca merupakan edisi tahun 2015, ada baiknya juga menyesuaikan dengan bahasa keseharian remaja jaman sekarang, mengikuti sifat bahasa itu sendiri yang cenderung dinamis. Bukan apa-apa, tapi supaya anak jaman sekarang pun bisa menikmati karya klasik macam ini. Dan saya yakin, hanya karena buku ini terjemahan, perbedaan bahasa tak perlu menjadi pembatas dalam berkomunikasi dengan pembaca.

Baca juga Review : Animal Farm by George Orwell

Kesimpulan akhirnya, saya rela memberikan 3.5 bintang untuk The Catcher in The Rye versi asli. Akan tetapi untuk versi terjemahan yang ini, sayangnya saya harus memberikan 2 bintang saja. Semoga bisa menjadi motivasi dan perbaikan bagi para penerbit dan penerjemah novel asing di luar sana.

View all my reviews


*Disclaimer: pengulas bukanlah penerjemah profesional, hanya tertarik kepada penerjemahan dan sedang mempelajari bidang tersebut, serta kebetulan suka membaca novel terjemahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s