Kembali ke Puisi

Sudah memasuki bulan kedua, tampaknya saya sedang kekurangan inspirasi untuk mencurahkan apapun ke dalam postingan blog. Yang terakhir adalah bulan Desember, anggap saja sebagai penutup akhir tahun.

Ada banyak sekali bahan cerita yang bisa saya olah, event yang saya datangi dan tentu saja pemikiran-pemikiran tak karuan yang bertengger bak tumor di kepala, kian waktu kian akut. Sayangnya, entah kenapa selalu ada rasa enggan. Continue reading

Desember Yang Sekarat

Ada banyak yang ingin aku tuliskan sejak sebulan yang lalu. Begitu banyak hal. Namun entah kenapa ketika Desember datang, aku malah sibuk mencari-cari sesuatu untuk mendistraksi diriku dari semua hal itu. Aku ingin rebah, terpejam dan bermimpi sangat lama. Tak usah repot-repot datangkan seorang pangeran yang ingin mencumbuku hingga terbangun. Biar saja aku berjalan jauh tersesat dalam hutan, mengikuti jejak remah roti yang tercecer di jalanan. Sungguh, aku tak keberatan. Continue reading

Dibalik Nama Fa

Yah, para viewers bisa tengok di kotak gravatar sebelah kanan atas, disana ada deskripsi yang saya tulis tentang “Fa itu…ya Fa!”. Nah, ada kaitannya dengan post kali ini, yang saya sengaja buat dengan asumsi siapa tahu pada penasaran nih awal mula Fa itu gimana, dengan statusnya yang urang Sunda gitu…punya nama pake huruf “F”. Hihihi… Tapi jangan khawatir, saya tidak akan mencantumkan teori big bang, evolusi darwin atau proses penciptaan manusia versi Al-Qur’an. Puyeng tau! Intinya mah, gimana awal mula saya bernama Fa, hehe.

Lahir di Kuningan Timur, tepatnya desa Cibingbin (tenang, yang gak tau Cibingbin bisa cek google map, ahaha) pada bulan Mei, katanya saya adalah bayi yang sehat (hehey). Menurut cerita nenek saya, pada waktu itu si mamah dan si bapak berembuk untuk kasih nama ke saya yang masih anonim (ya iyalah?). Ada banyak saran dari para sesepuh, kerabat, juga tetangga, namun sepertinya saran mereka langsung di tampik, pik, pik..sama si mamah haha. Sebelumnya, teteh saya diberi saran nama oleh si uwa. Mungkin karena waktu itu anak pertama, si mamah dan si bapak masih agak bingung jadi langsung di iyakan saja saran si uwa itu. Dan seperti itulah, teteh saya bernama Euis. Euis? Ya, sunda banget kan? Selama ini saya belum pernah punya kenalan orang Jawa, Padang atau Batak yang namanya Euis. *towew*
Si nenek cerita, Continue reading