Quote

Quotes : Rilke And Sadnesses

“It seems to me that almost all our sadnesses are moments of tension, which we feel as paralysis because we no longer hear our astonished emotions living. Because we are alone with the unfamiliar presence that has entered us; because everything we trust and are used to is for a moment taken away from us; because we stand in the midst of a transition where we cannot remain standing. That is why the sadness passes: the new presence inside us, the presence that has been added, has entered our heart, has gone into its innermost chamber and is no longer even there, – is already in our bloodstream. And we don’t know what it was. We could easily be made to believe that nothing happened, and yet we have changed, as a house that a guest has entered changes. We can’t say who has come, perhaps we will never know, but many signs indicate that the future enters us in this way in order to be transformed in us, long before it happens. And that is why it is so important to be solitary and attentive when one is sad: because the seemingly uneventful and motionless moment when our future steps into us is so much closer to life than that other loud and accidental point of time when it happens to us as if from outside. The quieter we are, the more patient and open we are in our sadnesses, the more deeply and serenely the new presence can enter us, and the more we can make it our own, the more it becomes our fate.”
Rainer Maria Rilke

Desember Yang Sekarat

Ada banyak yang ingin aku tuliskan sejak sebulan yang lalu. Begitu banyak hal. Namun entah kenapa ketika Desember datang, aku malah sibuk mencari-cari sesuatu untuk mendistraksi diriku dari semua hal itu. Aku ingin rebah, terpejam dan bermimpi sangat lama. Tak usah repot-repot datangkan seorang pangeran yang ingin mencumbuku hingga terbangun. Biar saja aku berjalan jauh tersesat dalam hutan, mengikuti jejak remah roti yang tercecer di jalanan. Sungguh, aku tak keberatan. Continue reading

Kejengahanku – Pada Hujan #1

Aku merasa kasihan. Pada ilalang kering, angin gersang, debu jalanan, retakan tanah. Adakah yang sudi menyelipkan mereka pada bait puisi, dimana rindu dan manisnya kata-kata cinta ikut digoreskan? Lelah sudah mataku membaca rayuan dalam sajak-sajak hujan, penantian akan kehangatan, kutipan cengeng tentang airmata yang dapat mereka samarkan, sungguh membuatku bosan. Mungkin saja sekali aku juga pernah menggilainya. Tapi hujan, kini terlalu pasaran. Seperti wujudnya, yang selalu datang keroyokan.

1372189356_save-for-a-rainy-day1

Aku benci. Orang-orang menjadi Continue reading

Gadis Apel

Gadis-gadis itu bagaikan apel di pohonnya.

BQcDAAAAAwoDanBnAAAABC5vdXQKFmx2RVZWQU84M2hHcmMwQmxDZzlpdkEAAAACaWQKAXgAAAAEc2l6ZQ

Apel yang terbaik berada di puncak pohon teratas. Para lelaki tidak mau menggapai buah yang bagus karena mereka takut jatuh dan terluka. Sebaliknya, mereka hanya mendapatkan apel-apel busuk yang berada di tanah yang buahnya tidak begitu bagus, tapi mudah didapat.  Sehingga apel-apel yang berada diatas berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri mereka, ketika pada kenyataannya mereka itu mengagumkan.

Mereka hanya hanya perlu menunggu lelaki yang tepat untuk datang, seseorang yang cukup berani untuk memanjat sepenuhnya menuju puncak pohon tersebut.

 

*Original quote by : Pete Wentz