Hadirnya Sambal di Menu Hokben Hoka Suka, Pemuas Lidah Indonesia

Sambal di Lidah Orang Indonesia

Katanya orang Indonesia gak bisa makan tanpa nasi. Selain nasi, kayaknya masih ada satu hal lagi deh yang gak boleh luput dari piring orang Indonesia kalau lagi makan. Apa lagi kalau bukan sambal? Bagi orang Indonesia, sambal bukan cuma sebagai pelengkap. Ia bahkan jadi faktor yang selalu bikin nafsu makan bertambah. Wah, pokoknya kurang afdol kalau makan tanpa sambal. Bagaikan sayur tanpa garam, hambar! Lebay banget ya, kayaknya? Haha. Ya begitulah kalau sebuah cita rasa sudah mengakar di lidah para penikmatnya. Sambal itu tak hanya jadi kebanggaan, tapi juga sudah menjadi identitas bagi rakyat Indonesia. Gimana enggak? Di tiap daerah, Indonesia punya sambal khasnya sendiri-sendiri. Di tiga waktu makan, hampir selalu ada sambal. Sarapan bubur ayam atau nasi uduk pun misalnya, pasti disediain sambal juga kan?

meme sambal biskuit

Ya tapi gak kayak gini juga, keles… -_-

Nah, melihat fenomena ketergantungan orang Indonesia terhadap sambal ini (waduh, kalimatnya udah kayak pembahasan skripsi aja nih) maka HokBen meluncurkan set menu baru yang memadukan makanan Jepang dengan cita rasa Indonesia alias fusion, bernama Hoka Suka. Hmm…gak salah nih? Di jaman ketika kaum milenial gandrung tren makanan yang serba modern dan kebaratan, HokBen malah berusaha merangkul tren budaya kuliner tradisional Indonesia? Sungguh anti mainstream dan bikin penasaran!

hoka suka hokben

Continue reading

Advertisements

Dear Ladies, Pipis Bukan Perasaan: Jangan Ditahan, Hadapi Dengan Uri-Cran!

Pipis Bukan Perasaan yang Mesti Ditahan

nahan pipis, kebelet

Karena kebetulan tanggal 08 Maret kemarin – bertepatan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional, maka pertama-tama izinkan saya mengucapkan selamat pada seluruh kaum hawa di mana pun kalian berada. You ladies, are strong and awesome!

Tahu gak kenapa perempuan itu makhluk kuat? Karena dia sering banget dan cerdik dalam menahan sesuatu, misalnya perasaan. Eaaa…. Akan tetapi ada satu hal selain perasaan yang suka para perempuan tahan dan harus dihentikan, yakni pipis. Wkwkwk…. Eits, jangan ketawa dulu! Nahan pipis kayaknya emang lucu ya, tapi sebenarnya risikonya sama sekali gak lucu loh. Malah, amat berbahaya!

Continue reading

Kulit Sehat dan Awet Muda dengan Vitamin D3 dan Dermal Filler

“Bertambah tua itu pasti, tampil awet muda itu pilihan.”

Yup, siapa sih yang tidak mau punya penampilan yang selalu tampak muda? Dalam seminar kesehatan yang diselenggarakan Lineation Korean Center, saya mendapat materi mengenai kesehatan, terutama yang berhubungan dengan kondisi kulit. Bagaimana sih supaya kulit tetap terlihat sehat dan awet muda? Jawabannya ada di materi yang diberikan oleh dr. Alvi mengenai fungsi D3 bagi kulit, serta materi Dermafiller dari dr. David (untuk materi soal Fisioterapi akan diposting terpisah yaa).

28055886_10215974269292726_2389318417890355218_n

Tetap terlihat cantik dengan kulit yang kencang, cerah, merona, meski di usia yang sudah tak lagi remaja adalah dambaan tiap orang, terutama kaum hawa. Itu bukanlah hal yang mustahil untuk didapatkan. Asal, kita mau berusaha. Caranya? Ya dengan memiliki pola hidup sehat. Pertama-tama kebiasaan pola hidup sehat itu tentu saja harus ditanamkan sejak usia muda. Nutrisi tubuh kita harus benar-benar tercukupi, salah satu nutrisi penting yaitu vitamin D. Nah, langsung saja kita simak materi pertama dari dr. Alvi yang sudah saya rangkum berikut, yuk!

Continue reading

Jalan-Jalan Sambil Menuai Kebaikan

me2

Seberapa sering kita merasa jenuh dengan aktivitas dan berpikir, “Aku butuh piknik!”? Yah, piknik atau sekadar jalan-jalan untuk melepas penat memang menjadi kebutuhan di zaman sekarang. Kita memang butuh sejenak melupakan kesibukan dan menikmati hidup untuk merasakan kebahagiaan. Tapi seberapa sering “Aku butuh piknik!” cuma jadi teriakan pelampiasan stress semata? Lalu pada akhirnya kita kembali sibuk dengan pekerjaan, stress lagi, teriak lagi. Continue reading

Membincangkan Muslihat Musang Emas

IMG-20180216-WA0003

Pada hari Jum’at, 16 Februari lalu, saya dan beberapa kawan dari Biblio Forum mengadakan agenda jalan-jalan yang kami namakan Bibliotrip. Jalan-jalan yang bukan sekadar jalan-jalan, karena perjalanan tersebut sekaligus mencari ilmu mengenai sastra, buku-buku, dan tulisan. Tujuan kami siang itu adalah Kineruku, sebuah kafe sekaligus perpustakaan di daerah Hegarmanah yang menyelenggarakan acara bedah buku Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto Pareanom. Meski belum pernah membaca buku Muslihat Musang Emas, saya amat tertarik karena nama Om Yusi ini cukup terkenal di kalangan penggemar sastra, terlebih saya sudah lama mengincar novelnya yang berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang dapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa itu. Rupanya Om Yusi juga adalah teman baik dari mentor nulis saya, jadi saya juga memang disarankan mentor untuk ikut acara tersebut “biar bisa belajar lebih banyak,” katanya. Secara kebetulan, pengisi acara kedua (pemantik diskusi) bedah buku tersebut adalah kenalan saya, Kang “Mamad” yang suka malas bangun pagi. Dia ini esais muda dan tulisannya sudah sering tayang di media daring.

Continue reading

Jumanji : Welcome to the Jungle – Sebuah Permainan yang Berevolusi Bagi Generasi Masa Kini

000f0874-614

source : rte.ie

Saat ini orang-orang yang pulang dari bioskop ramai membincangkan Coco dan AAC2, yang mau tak mau menebar rasa penasaran dan menarik pengunjung bioskop lainnya untuk menonton kedua film tersebut. Well, itulah yang terpikir di benak saya dan teman saya ketika melihat antrean tiket yang mengular di loket 21, pada sebuah Sabtu siang yang mendung. Jadi kami pikir untuk menonton film selain dua film itu saja, biar lebih leluasa memilih tempat duduk di dalam studio. Di antara daftar film lainnya itu, pilihan kami jatuh pada Jumanji : Welcome to the Jungle, film yang tampak “lumayan” dibandingkan sebuah film horror dan sebuah romance anak SMA (no offense, saya gelian sama yang namanya romance, apalagi romance lokal, hehe). Alasan sebenarnya sih karena teman saya sudah nonton film Coco dan Wonder duluan, jadi saya sebagai orang yang ditraktir manut saja pas dibeliin tiket Jumanji. *LOL, abaikan.

Continue reading

Review : The Catcher in The Rye by J.D. Salinger

31448729The Catcher in the Rye by J.D. Salinger

My rating: 2 of 5 stars

“Aku selalu membayangkan ada begitu banyak anak kecil bermain-main di sebuah ladang gandum yang luas. Ribuan anak kecil dan tak satu pun orang – maksudku orang dewasa – ada di sekitar tempat itu. Kecuali aku sendiri. Dan aku berdiri di pinggir sebuah tebing yang mengerikan. Yang harus kulakukan adalah menangkap semua anak begitu mereka mulai menghambur ke pinggir tebing – maksudku kalau mereka berlarian dan tidak memperhatikan arah. Lalu aku akan muncul entah dari mana dan menangkap mereka. Itu yang akan kulakukan sepanjang hari. Aku hanya ingin jadi seorang tukang tangkap, si penangkap, sang penyelamat di ladang gandum. Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi itu satu-satunya hal yang ingin aku lakukan. Aku tahu ini gila.” (hal. 242)

Buku yang masuk ke dalam daftar 100 Best Novel of All Time ini menceritakan keseharian seorang remaja bernama Holden Caulfield. Tak seperti tokoh utama dalam kebanyakan novel remaja, Holden bukanlah seorang anak yang memiliki kekuatan atau terpilih untuk melakukan suatu misi yang akan mengubah dunia atau hidup orang-orang di sekitarnya. Yah, Holden adalah seorang anak yang rebelious, kritis, serta merasa tak cocok dengan orang-orang di sekitarnya. Dan buku ini hanya menceritakan tentang keluh kesah Holden dalam menjalani hari-harinya di sekolah, sampai ia dikeluarkan tanpa memberitahu kedua orangtuanya. Bisa dikatakan ini semacam Diary of A Wimpy Kid versi klasik. Bisa jadi memang novel inilah yang menginspirasi serial diari si bocah tengil itu (bisa dicek pada rekaman wawancara Jeff Kinney berikut: http://www.bbc.co.uk/programmes/p02ndbws)

Lantas, apa yang menjadikan The Catcher in The Rye masuk ke dalam kategori buku terbaik dan berpengaruh sepanjang masa? Continue reading