Review : The Catcher in The Rye by J.D. Salinger

31448729The Catcher in the Rye by J.D. Salinger

My rating: 2 of 5 stars

“Aku selalu membayangkan ada begitu banyak anak kecil bermain-main di sebuah ladang gandum yang luas. Ribuan anak kecil dan tak satu pun orang – maksudku orang dewasa – ada di sekitar tempat itu. Kecuali aku sendiri. Dan aku berdiri di pinggir sebuah tebing yang mengerikan. Yang harus kulakukan adalah menangkap semua anak begitu mereka mulai menghambur ke pinggir tebing – maksudku kalau mereka berlarian dan tidak memperhatikan arah. Lalu aku akan muncul entah dari mana dan menangkap mereka. Itu yang akan kulakukan sepanjang hari. Aku hanya ingin jadi seorang tukang tangkap, si penangkap, sang penyelamat di ladang gandum. Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi itu satu-satunya hal yang ingin aku lakukan. Aku tahu ini gila.” (hal. 242)

Buku yang masuk ke dalam daftar 100 Best Novel of All Time ini menceritakan keseharian seorang remaja bernama Holden Caulfield. Tak seperti tokoh utama dalam kebanyakan novel remaja, Holden bukanlah seorang anak yang memiliki kekuatan atau terpilih untuk melakukan suatu misi yang akan mengubah dunia atau hidup orang-orang di sekitarnya. Yah, Holden adalah seorang anak yang rebelious, kritis, serta merasa tak cocok dengan orang-orang di sekitarnya. Dan buku ini hanya menceritakan tentang keluh kesah Holden dalam menjalani hari-harinya di sekolah, sampai ia dikeluarkan tanpa memberitahu kedua orangtuanya. Bisa dikatakan ini semacam Diary of A Wimpy Kid versi klasik. Bisa jadi memang novel inilah yang menginspirasi serial diari si bocah tengil itu (bisa dicek pada rekaman wawancara Jeff Kinney berikut: http://www.bbc.co.uk/programmes/p02ndbws)

Lantas, apa yang menjadikan The Catcher in The Rye masuk ke dalam kategori buku terbaik dan berpengaruh sepanjang masa? Continue reading

Advertisements

Review : Deep Space-Blue Testimony dan 17 Cerita Lain

Deep Space-Blue Testimony dan 17 Cerita Lain by SM Anasrullah, dkk.

My Rating: 3 of 5 stars

Sekumpulan cerita dalam buku yang terbit pada 2002 ini, mungkin adalah tulisan-tulisan di awal karir beberapa penulis yang namanya sudah cukup kita kenal saat ini. Buku antologi ini sendiri merupakan debut pertama dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY Press). Di awal buku ini, pertama-tama kita disuguhi pengantar panjang dari Mansour Fakih mengenai eksistensi kesusastraan yang seolah berperan sebagai pembawa pesan sekaligus pembela bagi peradaban manusia. Meski hal itu ada benarnya, namun pengantar tersebut terkesan terlalu rumit dan terasa dimewah-mewahkan, mengingat sastra itu sendiri memiliki sifat yang membumi, sehingga dibandingkan pengantar sebuah antologi cerita, hal itu mungkin akan lebih cocok ditempatkan dalam kumpulan jurnal sastra ilmiah.

Sebab tetap saja yang terpenting adalah apakah isi dari karya sastra itu sendiri dapat sampai pada pembacanya? Untunglah ketika satu per satu cerita itu terbaca, setidaknya ada beberapa yang memang menyampaikan dirinya dengan rendah hati, sederhana, membumi. Maksudnya bukan tulisan atau gaya bertutur, maupun alurnya yang sederhana, melainkan karya tersebut setidaknya mengalir dan enak dibaca sebagai “sebuah cerita”, bukan sebuah wacana atau doktrin.

Continue reading

Review: Perpustakaan Kelamin – Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

Perpustakaan Kelamin: Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Perpustakaan Kelamin: Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan by Sanghyang Mughni Pancaniti

My rating: 1 of 5 stars

.

“Ketika Tuhan meniupkan ruh padamu,
Dia simpan pada tiga tempat:
Akalmu, hatimu dan kelaminmu.
Tinggal kau yang putuskan,
Mana yang akan kau utamakan…?”
-Emha Ainun Nadjib-

Kelamin dan perpustakaan, nafsu dan akal pemikiran, sungguh dua hal yang bertolak belakang. Kelamin yang berada dalam lingkup sex, tidak dipungkiri mempunyai citra eksklusif yang “kotor”. Sedangkan perpustakaan dan buku-buku merupakan ilmu pengetahuan, sebuah simbol peradaban suci nan agung, bahkan kalau pun perpustakaan tersebut berisi segala buku tentang sex, ia tetaplah pengetahuan. Paradoks memang.

Itulah kenapa saya tertarik dengan premis yang ditawarkan oleh buku ini. Perpustakaan dan kelamin dalam pertaruhan. Menarik sekali bukan, membahas kelamin yang “kotor” dan ilmu pengetahuan yang “suci” sekaligus? Sepenting apa kelamin dibandingkan ilmu pengetahuan? Relakah kita mengorbankan kelamin demi ilmu pengetahuan? Kelamin yang pembahasannya selalu dianggap tabu dan menjijikan, rupanya tak terbayangkan juga jika kita sampai kehilangan keberadaannya. Tetapi demi kelamin, relakah pula untuk kita mengorbankan ilmu pengetahuan? Continue reading

Mengintip Dunia Sukab Bersama SGA

csng03hukaaxh1s-jpg-largeBagi yang memperhatikan dunia sastra Indonesia, nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) tentu sudah tidak asing terdengar. Tulisan-tulisan beliau sudah sangat sering berseliweran di koran-koran nasional. Cerpen dan essaynya sangat khas dengan tokoh bernama Sukab.  Dalam rangkaian acara Pekan Literasi Kebangsaan yang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, tepatnya pada hari Selasa, 06 Desember 2016, SGA berbagi kisah tentang kumpulan cerpennya dari periode tahun (1985-2014) yang berjudul Dunia Sukab. Continue reading

Review: Surga Sungsang: Buku Cerita

Surga Sungsang: Buku Cerita
Surga Sungsang: Buku Cerita by Triyanto Triwikromo

My rating: 3 of 5 stars

Membaca buku ini memang membuat pikiran sungsang. Unsur puisi, legenda, spiritual, sejarah, essai dan realitas sosial berkumpul, berembuk dalam sebuah fiksi yang ajaib dan “tidak normal”. Tapi memang sampai kapan kita mau bermanja-manja dengan bacaan yang “normal” sementara dunia saja sudah lama pudar kewarasannya? Memahami kenyataan yang terjadi di sosial masyarakat kita, tak akan berhasil jika kita tidak mau ikut mengintip ke bagian gelap itu. Intrik dan konflik yang disajikan dalam cerita-cerita di buku ini sejatinya adalah refleksi, hanya saja dibuat semenakjubkan mungkin. Maka hal itulah yang mungkin membuat pusing kebanyakan pembaca awam (termasuk saya sendiri), sebab sang penulis buku ini imajinasinya bak tanaman rambat yang lupa dibabat. Liar! Juga bikin lieur! Continue reading