Buku Sastra yang Mudah Dibaca

Istilah sastra identik dengan karya-karya yang filosofis, simbolis, dan memiliki gaya bahasa tinggi. Karya sastra memang punya peran penting bagi peradaban, penulis-penulisnya kerap menjadi sosok yang diagungkan. Penghargaan Nobel yang bergengsi juga memiliki segmen khusus untuk mengapresiasi kategori sastra. Maka tak heran jika sastra cenderung memiliki penggemar yang eksklusif. Tak semua orang suka membaca karya sastra. Kebanyakan orang lebih memilih bacaan yang mereka anggap ringan untuk mengisi waktu luang. Ini sah-sah saja karena bagi banyak orang, kegiatan membaca itu adalah untuk relaksasi dan menenangkan pikiran, bukan justru untuk menambah mumet pikiran. Tak heran pula jika buku sastra tidak selaris buku genre populer lain yang banyak beredar di pasaran.

literature-tuition-online-singapore

“Sastra itu rumit.”

“Duh, saya gak ngerti kalau bahas buku sastra. Gak kesampean.”

Kalimat-kalimat bernada demikian sering saya dengar. Sebetulnya gak baca buku sastra dan lebih memilih buku populer juga gak apa sih. It’s a matter of preference. Yang kenapa-kenapa itu kalau gak baca buku sama sekali, kan bisa runtuh generasi kita nanti. Hehehe.

Jadi, sastra itu rumit apa enggak? Continue reading

Advertisements

Review: Lelaki Harimau

Lelaki Harimau
Lelaki Harimau by Eka Kurniawan

My rating: 5 of 5 stars

 

Tak seorang pun pernah mendengar seseorang membunuh dengan cara seprimitif itu. Ada dua belas pembunuhan yang mereka kenal sepanjang sejarah kota, dan mereka mempergunakan golok atau pedang. Tak ada pistol, tak ada keris, apalagi gigitan. (…)
Pikiran itu datang sekonyong-konyong, semacam wahyu cemerlang yang meletup di otaknya. Ia bilang ada isi di dalam tubuhnya, sesuatu yang tak sekadar jeroan usus, yang menggelosor keluar dan dan menggerakkan seluruh raganya, mengendalikannya dan mengajak dirinya membunuh Anwar Sadat. (…)
“Bukan aku,” kata Margio tenang dan tanpa dosa. “Ada harimau di dalam tubuhku.”

Bercerita tentang kehidupan masyarakat pinggiran, tersebutlah Margio, seorang pemuda baik, namun pemurung. Suatu hari ia dipergoki berlumuran darah, namun tak terluka. Malah, ditemukan mayat Anwar Sadat terkapar dengan leher hampir putus. Beberapa hari sebelumnya, Margio baru saja ditinggal mati Komar bin Syueb, lelaki yang amat dibenci Margio yang juga merupakan ayahnya sendiri. Ia bergembira dengan berita kematian itu. Kini ia, ibu beserta adiknya bisa hidup dengan damai. Lantas, apa yang kemudian menyebabkannya melakukan pembunuhan sadis, terlebih pada ayah gadis yang disukainya itu? Continue reading