Aside

Padamnya Waktu, Kau dan Aku

9d8fa99af154af47a40357c458c40384

Kitalah api yang menyala hangat di ujung sumbu lilin-lilin ulangtahun

Meleleh di atas rasa manis yang lembut

Raba rasa jemari saling menyentuh

Datang bersama bahagia dan nyanyian yang tahu diri,

Kita cahaya yang lekas padam

Bersama tiupan do’a yang permisi

Bandung, 30 Mei 2016

Advertisements

Kembali ke Puisi

Sudah memasuki bulan kedua, tampaknya saya sedang kekurangan inspirasi untuk mencurahkan apapun ke dalam postingan blog. Yang terakhir adalah bulan Desember, anggap saja sebagai penutup akhir tahun.

Ada banyak sekali bahan cerita yang bisa saya olah, event yang saya datangi dan tentu saja pemikiran-pemikiran tak karuan yang bertengger bak tumor di kepala, kian waktu kian akut. Sayangnya, entah kenapa selalu ada rasa enggan. Continue reading

Kejengahanku – Pada Hujan #1

Aku merasa kasihan. Pada ilalang kering, angin gersang, debu jalanan, retakan tanah. Adakah yang sudi menyelipkan mereka pada bait puisi, dimana rindu dan manisnya kata-kata cinta ikut digoreskan? Lelah sudah mataku membaca rayuan dalam sajak-sajak hujan, penantian akan kehangatan, kutipan cengeng tentang airmata yang dapat mereka samarkan, sungguh membuatku bosan. Mungkin saja sekali aku juga pernah menggilainya. Tapi hujan, kini terlalu pasaran. Seperti wujudnya, yang selalu datang keroyokan.

1372189356_save-for-a-rainy-day1

Aku benci. Orang-orang menjadi Continue reading