Jadi VIP dengan Traveloka? Bisa!

Sekitar beberapa bulan yang lalu, teman SMA saya melangsungkan pernikahan di Bandung. Alhasil acara tersebut sekaligus dijadikan ajang liburan sambil reuni dadakan bersama teman-teman alumni SMA lainnya yang dari luar kota. Sesudah resepsi, tentu kami tidak langsung pulang, melainkan masih ingin berkumpul dan melepas kangen. Salah seorang dari kami mengusulkan untuk main ke Maribaya, kebetulan gedung tempat resepsi searah menuju kawasan Lembang dan beberapa teman lainnya juga belum pernah berkunjung ke sana. Maka tanpa pikir panjang, berangkatlah kami menuju Maribaya.

pinterest

Jalan-jalan di akhir pekan – ekspektasi vs. kenyataan (sumber: pinterest)

Sesampainya di sana, barulah kami teringat bahwa hari itu adalah hari Sabtu. Akhir pekan adalah waktu yang ramai bagi tempat wisata manapun, terlebih lagi daerah Lembang. Salahnya lagi, kami berangkat sudah menjelang sore dan tentu saja kemacetan tak bisa kami hindari.  Akhirnya setelah mengantri dengan para pengunjung lainnya, yang berhasil kami dapatkan hanyalah tiket masuk. Continue reading

Advertisements

Menikmati Alam dan Budaya Sunda di Kebon Awi Kaffee

Daya tarik Bandung sebagai kota wisata memang sudah tak asing lagi. Setiap akhir pekan, pemandangan jalanan kota Bandung yang padat dengan kendaraan dari dalam maupun luar kota dapat kita saksikan sebagai buktinya. Akan tetapi semakin ramai Bandung, semakin banyak pula yang berubah dari tatanan kota kembang ini. Banyaknya turis membuka peluang bisnis yang menjanjikan, sehingga ada banyak bangunan-bangunan baru didirikan. Kalau kita perhatikan, area-area wisata yang sering dikunjungi turis justru semakin marak dengan tempat-tempat seperti kafe atau restoran yang menawarkan hidangan barat, mall, bioskop, butik, dan sebagainya. Lantas, apa bedanya Bandung yang sekarang dengan kota-kota besar lainnya? Tapi rupanya ada pula sebuah tempat di kota Bandung yang menawarkan kita untuk berwisata dan bernostalgia ke Bandung masa lalu, tanah parahyangan yang tenang dan sejuk yang kental dengan tradisi kebudayaan kasundaan-nya. Tempat itu ialah #KebonAwiKaffee .

IMG20171104101422 Continue reading

Ngumpul Bareng Blogger Muslimah Bandung

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa dibandingkan lelaki, perempuan lebih cerdas secara linguistik. Itulah kenapa kebanyakan perempuan senang berkumpul dan mengobrol. Terlebih karena perempuan lebih peka secara emosional, maka pelampiasan atau pengekspresian lewat kata-kata (entah itu secara verbal maupun tertulis) sudah menyerupai sebuah kebutuhan yang mutlak.

Mungkin itulah kenapa komunitas atau perkumpulan-perkumpulan para perempuan amat banyak bermunculan dan kebanyakan mampu bertahan dengan cukup lama. Contoh terkecil adalah budaya arisan, PKK atau pengajian. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, kita bisa menemukan komunitas perempuan yang lebih beragam, serta menyesuaikan tren. Misalnya komunitas hijaber atau blogger. Kebetulan sekitar sepekan yang lalu saya menghadiri acara Meet Up Blogger Muslimah Bandung. Continue reading

Flashback 2016 : Menoleh Kembali

2017 Calender on the red cubes

2017 Calender on the red cubes

Selamat tahun baru! Ini adalah postingan pertama di tahun 2017. Yeay! Di awal tahun, orang berbondong-bondong menulis resolusi. Pasalnya, tahun baru = harapan dan mimpi-mimpi baru. Akan tetapi, saya tidak akan menulis resolusi di sini. Malahan, saya mau bernostalgia, mengenang kembali momen-momen di tahun 2016. Kenapa? Gak bisa move on? Plis, deh…

Seperti kata bapak proklamator kita, “JAS MERAH. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!” Seperti itu saya percaya bahwa masa-masa yang telah lalu berfungsi seperti kaca spion yang perlu sesekali kita tengok demi mencapai tujuan di depan dengan lancar dan selamat. Nah, dengan menyadari hal-hal apa saja yang telah kita alami di tahun sebelumnya, bisa menjadi pelajaran dan monitor untuk mendapatkan target kita di tahun selanjutnya. Continue reading

Kamera Ponsel : Pembuktian Bahwa Liburanmu Adalah Fakta

Asus Zenfone Laser giveaway

NO PICTURE = HOAX

Sepertinya kita sudah tidak asing lagi dengan pernyataan di atas. Sejak teknologi mulai mendominasi di kehidupan sehari-hari, informasi jadi makin lebih mudah terakses. Namun akses yang mudah juga membuat orang-orang menjadi mudah curiga dan penuh prasangka, apa hal tertentu itu benar atau rumor jadi-jadian semata. Oleh karena itu pernyataan “no picture = hoax” menjadi viral di internet atas rasa kehati-hatian masyarakat terhadap suatu berita.

Nah, tentunya kita juga gak mau donk kalau orang-orang menganggap kita tukang ngibul cuma gara-gara kita gak punya bukti bahwa kita sudah atau sedang melakukan sesuatu, pergi liburan misalnya? Continue reading